loading...
Pengunduran diri massal pucuk pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan investor. Foto/Dok
JAKARTA - Pengunduran diri massal pucuk pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan investor. Pengamat Pasar Modal , Reydi Octa memandang pergantian kepemimpinan ini sebagai upaya "penyegaran" yang diperlukan agar pasar modal Indonesia kembali dipandang kredibel di mata dunia.
Menurut Reydi, guncangan hebat akibat kebijakan MSCI yang membekukan penyesuaian bobot (rebalancing) indeks untuk Indonesia pada Februari ini merupakan tamparan keras. Hal ini memicu kerentanan kepercayaan investor global terhadap transparansi IHSG.
"Menurut saya kalau memang itu yang terbaik keputusannya untuk keberlanjutan pasar modal aja sih. Supaya kan dari kemarin ada kejadian trading halt yang sampai dua hari berturut-turut. Kepercayaan investor global juga mulai rentan mempertanyakan transparansi IHSG. Jadi sepertinya kita perlu wajah baru yang ke-refresh gitu," ujar Reydi Octa saat dihubungi, Jumat (30/1).
Baca Juga: Pasar Modal Indonesia Diguncang Krisis Kredibilitas, Bos OJK dan BEI Mundur Jamaah
Meski pasar sempat mengalami penurunan tajam hingga memicu trading halt, Reydi menilai situasi ini tidak sedahsyat krisis masa awal pandemi. Ia berpendapat bahwa kepanikan yang terjadi lebih disebabkan oleh investor yang belum sepenuhnya mencerna maksud di balik keputusan MSCI.


















































