BPS Ungkap Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan Mengkalkulasi Lebih dari 40 Variabel

5 hours ago 20

loading...

BPS menjelaskan, bahwa akurasi pemeringkatan desil sangat bergantung pada kebaruan data dasar yang digunakan, bukan sekadar penyesuaian pada metode kalkulasinya. Foto/Dok

JAKARTA - Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data Badan Pusat Statistik ( BPS ), Setia Pramana menekankan pentingnya pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) secara berkala agar data yang digunakan pemerintah tetap akurat dan mencerminkan kondisi riil masyarakat. Ia menjelaskan, bahwa akurasi pemeringkatan desil sangat bergantung pada kebaruan data dasar yang digunakan, bukan sekadar penyesuaian pada metode kalkulasinya.

“Yang penting bukan hanya metodologi ranking, tetapi data yang di-ranking harus terkini, akurat, dan mutakhir,” ujar Setia di sela diskusi Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan di Indonesia, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Penentuan desil dalam DTSEN tidak hanya mengacu pada tingkat pengeluaran atau pendapatan semata, melainkan mengkalkulasi lebih dari 40 variabel indikator sosial-ekonomi seperti karakteristik rumah tangga, kondisi perumahan, kepemilikan aset, hingga akses sanitasi.

Baca Juga: Bansos Digital Bakal Dinikmati Desil 1 hingga 5, Luhut Targetkan Awal 2027

“Bukan desilnya yang harus dimutakhirkan, tetapi datanya. Kondisi masyarakat harus di-update sesuai kondisi saat ini. Desil bukan diurutkan berdasarkan pengeluaran saja. Kita punya lebih dari 40 variabel. Jadi, tidak ada batas pendapatan tertentu yang otomatis menentukan seseorang masuk desil tertentu,” paparnya.

Untuk menangkap dinamika kesejahteraan masyarakat yang terus berubah, BPS menjalankan pemutakhiran data berkala tiap tiga bulan sekali. Sekaligus membuka peluang integrasi data lintas 18 kementerian dan lembaga terkait dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan data pribadi.

“Harapannya, dengan data yang mutakhir, kita bisa menangkap dinamika kondisi masyarakat. Kalau memang ada sesuatu yang berubah, masyarakat perlu melaporkannya. Kalau bicara data, sangat memungkinkan kita berkolaborasi dengan seluruh kementerian dan lembaga,” kata Setia.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |