loading...
Diskusi bertema Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra di Kampus USU, Medan, Selasa (10/2). FOTO/Puguh Haryanto
MEDAN - Isu perubahan iklim global semakin nyata memicu risiko bencana di Sumatera, terutama banjir hidrometeorologi yang berdampak sosial, ekonomi, dan ekologis.
Universitas Sumatera Utara (USU) menekankan pentingnya kebijakan berbasis riset untuk mengelola industri sawit sekaligus memperkuat ketahanan wilayah menghadapi ancaman tersebut.
"Kita harus dapat merumuskan pendekatan kolaboratif antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana. Perguruan tinggi perlu mengedepankan pendekatan evidence-based policy, di mana setiap rekomendasi didasarkan pada riset yang kuat, data empiris, dan analisis multidisipliner. Tidak hanya yang tampak di luar saja," kata Wakil Rektor III Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Anjelisa Zaitun Hasibuan, saat membuka Diskusi Ilmiah di Kampus USU, Medan, Selasa (10/2).
Diskusi bertema “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” menghadirkan Guru Besar Fakultas Pertanian USU Prof Abdul Rauf dan Prof Diana Chalil, serta Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr Ardhasena Sopaheluwakan. Hadir pula perwakilan pemerintah, petani sawit, serta asosiasi industri sawit, termasuk Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto dan Ketua Gapki Sumatera Utara Timbas Prasad Ginting.
Prof Poppy Anjelisa menekankan bahwa forum ini bukan sekadar ruang akademik, melainkan refleksi bersama atas tantangan besar yang dihadapi masyarakat Sumatera. Diskusi diharapkan mampu mencari titik temu atas tudingan terhadap perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab ketidakseimbangan ekosistem yang memicu banjir, dengan tetap berlandaskan fakta ilmiah.
Baca Juga: POPSI: Posisi Sawit di Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Perlu Dilihat Proporsional


















































