Tokoh Madura: Masyarakat Tak Boleh Jadi Penonton dalam Konversi LPG ke NGC

4 hours ago 24

loading...

Tokoh Madura HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur buka suara menyoroti konversi energi kedua Indonesia yakni dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Compressed Natural Gas (CNG). Foto: Ist

SUMENEP - Tokoh Madura HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur buka suara menyoroti konversi energi kedua Indonesia yakni dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Compressed Natural Gas (CNG) . Konversi negeri dari LPG ke CNG yang bakal berdampak positif bagi Indonesia, justru memiliki makna yang lebih mendalam bagi Madura, daerah yang kaya akan gas alam, tetapi masyarakatnya masih banyak bergulat dengan kemiskinan.

"Bagi Indonesia, ini adalah agenda strategis. Tetapi bagi Madura, rencana besar ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ini bukan hanya soal energi. Ini soal keadilan. Ini soal sejarah panjang sebuah pulau yang kaya sumber daya, tetapi rakyatnya masih bergulat dengan kemiskinan," ujar Gus Lilur, Rabu (13/5/2026).

Kekayaan alam Madura selama bertahun-tahun mengalir keluar, menghidupi industri besar di Jawa Timur, tetapi belum cukup kuat mengangkat martabat ekonomi rakyat Madura sendiri. Madura bukan pulau miskin sumber daya. Madura adalah pulau kaya gas.

"Selama ini, gas alam Madura telah menjadi salah satu penopang utama kebutuhan energi Jawa Timur. Data yang banyak dikutip menyebut gas alam Madura memasok sekitar 70 persen kebutuhan industri Jawa Timur, terutama dari wilayah Kangean, Sumenep, melalui jaringan pipa laut," kata Founder dan Owner Bandar Gas Madura (Bagasmara) ini.

Dalam konteks tersebut, Madura menemukan wajah ironinya yang paling telanjang, yakni Madura kaya gas, tetapi rakyatnya tetap miskin. Jembatan Suramadu pernah dibayangkan sebagai pintu perubahan ekonomi Madura. Jembatan ini diharapkan menjadi jalan baru bagi perdagangan, investasi, mobilitas manusia, dan pemerataan pembangunan.

"Namun dalam urusan gas, Suramadu hampir tidak punya makna. Sebab, gas Madura tidak mengalir melalui jembatan itu. Gas Madura tidak terlebih dahulu masuk ke dapur rakyat Madura. Gas itu justru dialirkan lewat pipa laut menuju kawasan industri di Jawa Timur," ungkapnya.

Dia menuturkan setelah sampai di Jawa Timur, gas Madura masuk ke sistem distribusi, industri, dan logistik energi yang lebih besar. "Ia menghidupi pabrik, kawasan industri, pembangkit, petrokimia, dan konglomerasi ekonomi di Gresik, Sidoarjo, Surabaya, serta daerah-daerah lain. Dalam banyak hal, yang menikmati nilai tambah terbesar dari gas Madura bukanlah rakyat Madura, melainkan pusat-pusat industri di luar Madura," ujarnya.

Menurut Gus Lilur, luka struktural tersebut harus dibaca dengan jernih di mana Madura menjadi sumber, menjadi pemasok, menjadi tulang punggung, tetapi Madura belum menjadi pusat manfaat. Kekayaannya mengalir keluar, sementara desa-desa Madura tetap menunggu tetesan pembangunan yang tak kunjung deras.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |