loading...
Workshop bertajuk Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor batu bara dinilai perlu dipantau secara menyeluruh, mulai dari proses produksi hingga dampak penggunaan energi di hilir. Pengawasan yang komprehensif dinilai penting untuk memastikan target pengurangan emisi dan agenda transisi energi berjalan kredibel serta berdampak nyata.
"Sering kali perusahaan hanya melihat emisi langsung atau listriknya saja. Padahal kita juga harus melihat emisi dari transportasi, limbah B3, hingga bagaimana batu bara itu digunakan di pembangkit," kata Ahli Life Cycle Expert Panel KESGI, Jessica Hanafi, dalam Workshopbertajuk "Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan", dikutip pada Kamis (13/6/2026).
Baca Juga: KESGI Dashboard Dorong Transparansi ESG di Pasar Modal
Jessica menjelaskan pendekatan dekarbonisasi industri batu bara harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup industri, mulai dari produksi, distribusi, hingga dampak setelah energi digunakan. Karena itu, perusahaan dinilai perlu memiliki sistem pengelolaan data dan pemantauan emisi yang kuat agar target penurunan emisi dapat diukur secara transparan dan akurat.
Selain aspek lingkungan, Jessica menilai dimensi sosial masih menjadi tantangan dalam implementasi ESG di sektor pertambangan. Menurut dia, isu kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar tambang, seperti gangguan pernapasan akibat paparan debu, masih minim dibahas dalam laporan keberlanjutan perusahaan.
Ia juga mengingatkan bahwa agenda transisi energi harus memperhatikan dampak sosial-ekonomi terhadap pekerja dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertambangan. “Jangan sampai wilayah tambang menjadi kota mati ketika industri berhenti,” ujarnya.


















































