loading...
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Pengurus Komisi Pesantren MUI Pusat dan Dosen Kepemimpinan Pendidikan Pesantren UDN Jakarta.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Pengurus Komisi Pesantren MUI Pusat dan Dosen Kepemimpinan Pendidikan Pesantren Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
“Guru-guru muda harus percaya diri: pesantren bukan masa lalu, pesantren adalah masa depan,” seru KH. Hadiyanto Arief di acara Silaturahim Nasional Pesantren Muadalah Muallimin & Musyawarah Nasional Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG). Pernyataan itu bukan motivasi kosong, melainkan kesimpulan dari sebuah pembacaan ulang yang mengejutkan.
Ayah Dedy panggilan akrab para santri kepada kiai muda ini menyampaikan pertanyaan, apa jadinya jika sistem pendidikan tertua di Nusantara yaitu Pesantren menyimpan DNA yang sama dengan sekolah elite seperti Eton College di Inggris atau Exeter Academy di Amerika? Lalu, mengapa kita lama tak menyadarinya?
Pemikiran kiai Dedy, salah satu pimpinan Pesantren Darunnajah Jakarta, bukanlah romantisme. Ia adalah klaim intelektual yang menantang cara pandang usang tentang pesantren. Dalam hiruk-pikuk wacana pendidikan internasional dengan segala istilah seperti liberal arts, character building, hingga leadership school, ia mengajak kita mereviu ke dalam tradisi kita sendiri, bahwa pesantren adalah pelopor pendidikan holistik Nusantara.
Dalam pemikiran kiai Dedy, gugusan liberal arts klasik Barat bermula dari keinginan membebaskan pikiran (artes liberales). Metodenya adalah dialektika ala Socrates; hasilnya adalah manusia merdeka yang berpikir luas. Pesantren, dengan basis nilai yang berbeda, ternyata berjalan pada rel yang sama.
Di pesantren, "pembebasan pikiran" terjadi melalui Bahtsul Masail (diskusi masalah) dan Munadzarah (debat ilmiah) yang tak kalah ketat dengan metode Sokratik. Konsep boarding school atau sistem asrama yang diagungkan pendidikan Barat sebagai ruang immersi total, telah menjadi denyut nadi pesantren selama berabad-abad. Yang di Barat disebut multi-disciplinary approach, di pesantren terwujud dalam penguasaan sains alat (Nahwu, Sharaf) untuk membedah teks, ditambah fikih, tauhid, tasawuf, dan akhlak dalam satu kesatuan utuh berlandaskan cara pandang tauhid.
Dan inilah titik terpenting, saat sekolah elite global berbangga mencetak pemimpin (leaders), pesantren sejak awal telah memiliki visi kaderisasi pemimpin umat (zu'ama). Visi ini melampaui sekadar pencetakan profesi. Inilah "DNA" yang terlupakan yang coba diingatkan kembali oleh Kiai. Dedy.


















































