Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?

10 hours ago 41

loading...

Listya Endang Artiani, Ekonom Universitas Islam Indonesia (UII). Foto/Dok.Pribadi

Listya Endang Artiani
Ekonom Universitas Islam Indonesia (UII)

"PASAR tidak hanya membeli pertumbuhan. Pasar membeli keyakinan bahwa pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan."

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 memberikan alasan untuk optimisme. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh sekitar 5,6 persen (year-on-year), menjadi salah satu capaian terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah perlambatan ekonomi global, fragmentasi perdagangan internasional, serta ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, capaian tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan yang relatif kuat.

Namun, di balik angka yang terlihat impresif tersebut, muncul fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan, arus modal asing bergerak lebih selektif, dan berbagai pelaku pasar mulai mempertanyakan arah kebijakan ekonomi jangka menengah Indonesia. Pertanyaannya sederhana tetapi penting: jika ekonomi tumbuh kuat, mengapa investor masih gelisah?

Pertumbuhan Tinggi Belum Tentu Berkualitas

Dalam literatur ekonomi pembangunan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinilai dari besarnya angka pertumbuhan, tetapi juga dari sumber dan kualitas pertumbuhan tersebut. Pertumbuhan yang ditopang oleh investasi produktif, peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan inovasi teknologi umumnya lebih berkelanjutan dibandingkan pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi domestik atau stimulus fiskal jangka pendek (Solow, 1956; Romer, 1990).

Data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi ini memang positif dalam jangka pendek karena mampu menjaga permintaan agregat dan mencegah perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap kedua komponen tersebut berpotensi menciptakan kerentanan ketika kapasitas fiskal mulai terbatas atau daya beli masyarakat mengalami tekanan akibat inflasi maupun perlambatan pendapatan.

Dalam kerangka teori pertumbuhan endogen, investasi merupakan faktor kunci yang menentukan kapasitas produksi jangka panjang suatu negara (Romer, 1990). Oleh karena itu, investor tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi saat ini, tetapi juga mempertanyakan apakah pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan ekspansi kapasitas produksi dan peningkatan produktivitas di masa depan.

Investor Membeli Kepastian, Bukan Sekadar Statistik

Salah satu konsep penting dalam ekonomi modern adalah Policy Credibility Theory, yang menjelaskan bahwa efektivitas kebijakan ekonomi sangat bergantung pada tingkat kepercayaan publik dan pelaku pasar terhadap konsistensi kebijakan tersebut (Kydland & Prescott, 1977; Barro & Gordon, 1983).

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |