Interaksi dengan Penonton, Streamer Ini Raup Rp24 Juta dalam Semalam LIVE

3 hours ago 20

loading...

Andika Yulian Saputra alias Kabol membuktikan kedekatan interaksi mampu menggerakkan penonton hingga menghasilkan omzet Rp24 juta hanya dalam siaran satu malam di TikTok. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Bagi penikmat gim Free Fire , menyaksikan turnamen tak melulu harus lewat siaran resmi. Fenomena siaran ulasan mandiri yang dijalankan Andika Yulian Saputra (21) alias Kabol menjadi buktinya. Mahasiswa Universitas PGRI Madiun ini membuktikan bahwa kedekatan interaksi mampu menggerakkan penonton hingga menghasilkan omzet Rp24 juta hanya dalam siaran satu malam di TikTok .

Daya tarik akun @kaabol7 melesat tajam saat bergulirnya babak pertama Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall. Dalam satu malam siaran, jumlah pengikut akunnya melompat dari 2.000 menjadi 13.000 orang, hanya dengan modal dua ponsel dan satu kipas angin dari kamar rumahnya. Baca juga: Rahasia Mudah Booyah di Free Fire, Ini 10 Tips dari Kreator Konten Falintino FF

Penonton yang hadir tidak disuguhi tayangan ulang pertandingan resmi, melainkan ruang diskusi dan ulasan santai setelah pertandingan usai. Kabol secara tegas memilih untuk menghormati hak cipta turnamen. "Menyiarkan ulang itu bukan hak saya. Jadi saya nonton dulu, selesai pertandingan baru saya LIVE ," kata Kabol, Kamis (27/8/2026).

Membangun Komunitas Lewat Jam Tayang Disiplin
Suasana siaran yang interaktif membuat audiens bertahan hingga larut malam. Untuk menjaga keterikatan tersebut, Kabol menerapkan pembagian jenis konten yang terukur antara siaran langsung dan potongan klip video. "LIVE itu untuk yang sudah kenal saya. Klipnya yang mencari penonton baru," ujarnya.

Keterikatan audiens ini disoroti oleh pengamat ekonomi kreatif Ratna Puspitasari. Menurut Ratna, penonton platform digital di daerah mencari keterikatan rutinitas dan komunitas ketimbang sekadar menonton tayangan turnamen itu sendiri.

"Orang menyangka kreator daerah tumbuh karena satu video viral. Data perilaku menunjukkan sebaliknya," tutur Ratna. "Yang menahan audiens adalah keterulangan. Jam tayang yang tetap membangun kebiasaan, dan kebiasaan lebih tahan lama daripada algoritma."

Ratna juga menambahkan bahwa potensi ekonomi dari interaksi komunitas ini berkembang di tengah perputaran industri gim nasional yang mencapai Rp 25 triliun pada 2022. Meski demikian, Perpres No 19/2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional dinilai belum memayungi ekosistem kreator di tingkat akar rumput.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |