loading...
Kemenhut terus memperkuat pengendalian karhutla, terutama di Kalimantan yang pada pemantauan terakhir menunjukkan konsentrasi hotspot relatif tinggi. Foto/Dok. Kemenhut
JAKARTA - Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ). Terutama di wilayah Kalimantan yang pada pemantauan terakhir menunjukkan konsentrasi hotspot relatif tinggi.
Kapasitas operasi udara juga diperkuat dengan dukungan Pemerintah Jepang berupa tiga helikopter CH-47 Chinook yang telah tiba di Kalimantan Barat dan siap mendukung operasi water bombing. ”Sementara itu, perkembangan positif terpantau di Riau dan Jambi yang tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) pada pemantauan terakhir,” demikian pernyataan tertulis Kementerian Kehutanan, Sabtu (12/9/2026). Baca juga: BMKG: September 2026 Masih Jadi Fase Kritis Karhutla, El Nino Bertahan hingga 2027
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 21.15 WIB, secara nasional terdeteksi 688 hotspot high confidence, meningkat dibandingkan 569 titik pada 10 September 2026. Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, hotspot high confidence tercatat Kalimantan Tengah 271 titik (meningkat dari 96 titik).
Kemudian Kalimantan Barat 51 titik (meningkat dari 39 titik), dan Kalimantan Selatan 47 titik (meningkat dari 9 titik). Selanjutnya Sumatera Selatan 11 titik (turun dari 34 titik), Riau 0 titik (dari sebelumnya 18 titik), dan Jambi 0 titik (dari sebelumnya 2 titik).
Data tersebut menunjukkan konsentrasi perhatian pengendalian saat ini terutama berada di Kalimantan Tengah, yang mencatat hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Penguatan operasi juga dilakukan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
Di wilayah Sumatera, perkembangan lebih baik terlihat di Riau dan Jambi yang nihil hotspot high confidence, serta Sumatera Selatan yang mencatat 11 titik. Kendati demikian, patroli dan upaya pencegahan tetap dilakukan karena kondisi karhutla dapat berubah mengikuti cuaca dan kondisi bahan bakar di lapangan.
Kementerian Kehutanan kembali menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.

















































