Pembelajaran Lapangan: Mengubah Inspirasi Menjadi Inovasi Desa Wisata

4 hours ago 22

loading...

Benny Lianto, Rektor Universitas Surabaya dan Ketua Tim Pemberdayaan Desa Binaan Desa Belik, Trawas, Mojokerto. Foto/Ist

Benny Lianto
Rektor Universitas Surabaya
Ketua Tim Pemberdayaan Desa Binaan Desa Belik, Trawas, Mojokerto

KEINDAHAN ALAM tidak otomatis membuat sebuah desa wisata berkembang. Hutan bambu, persawahan, udara pegunungan, kesenian tradisional, kuliner lokal, dan keramahan masyarakat memang menjadi modal penting. Namun, tanpa tata kelola yang baik, pelayanan yang profesional, produk yang kreatif, dan keterlibatan masyarakat, seluruh potensi tersebut hanya akan menjadi kekayaan desa yang belum menghasilkan nilai tambah.

Banyak pengelola desa wisata telah mengikuti pelatihan mengenai pelayanan prima, pemasaran digital, konservasi, pengembangan produk, dan community-based tourism. Persoalannya, pengetahuan yang diperoleh di dalam ruangan tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi tindakan.

Pengelola mungkin telah memahami pentingnya pelayanan prima, tetapi belum melihat bagaimana wisatawan disambut sejak tiba hingga meninggalkan destinasi. Mereka mengetahui pentingnya partisipasi masyarakat, tetapi belum memahami bagaimana pemerintah desa, BUMDes, Pokdarwis, Karang Taruna, kelompok PKK, dan pelaku UMKM membagi peran secara nyata.

Kesenjangan antara mengetahui dan melakukan inilah yang perlu dijembatani melalui experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Dalam konteks pengembangan desa wisata, salah satu bentuknya adalah pembelajaran lapangan.

Pembelajaran lapangan membuat peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan. Mereka melihat, merasakan, bertanya, membandingkan, merefleksikan, dan mendiskusikan praktik pengelolaan destinasi secara langsung. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar, “Apa yang dilihat?”, melainkan “Pengetahuan apa yang dibawa pulang dan perubahan apa yang dilakukan setelah kembali ke desa?”

Belajar dengan Mengalami

Riset terbaru menunjukkan bahwa experiential learning tidak cukup dipahami sebagai kegiatan mengunjungi suatu tempat. Pengalaman baru menjadi pembelajaran apabila peserta memperoleh kesempatan untuk mengamati praktik nyata, melakukan refleksi, membentuk pemahaman, dan mencoba menerapkannya.

Riset yang dilakukan oleh Zhao dan Liu (2026) menegaskan bahwa experiential learning yang berkelanjutan tidak lahir dari kegiatan praktik yang terpisah dan sesaat. Pembelajaran harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang ditopang oleh arahan yang terstruktur, interaksi antarpeserta, refleksi, pendampingan, dan keterlibatan yang berkelanjutan.

Meskipun penelitian tersebut dilakukan dalam pendidikan manajemen pariwisata, prinsipnya relevan untuk pemberdayaan pengelola desa wisata. Satu kali kunjungan dapat menimbulkan kekaguman, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan. Inspirasi baru memiliki arti ketika diolah melalui diskusi, diterjemahkan menjadi rencana, diuji dalam tindakan, dan dievaluasi hasilnya.

Pembelajaran lapangan juga memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan yang sulit disampaikan melalui modul. Banyak pengetahuan dalam pengelolaan wisata bersifat tacit knowledge atau pengetahuan yang melekat pada pengalaman pelakunya.

Cara menghadapi keluhan wisatawan, membangun kedisiplinan warga, mengatur pembagian pendapatan, menjaga kebersihan, atau menyelesaikan konflik tidak selalu dapat dipahami hanya dengan membaca prosedur.

Penelitian Zhang et al. (2024) mengenai transfer pengetahuan kepada masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata pedesaan menunjukkan bahwa pengalaman sebelumnya, kesesuaian pengetahuan, teknologi, serta hubungan antarpelaku memengaruhi keberhasilan transfer pengetahuan.

Temuan ini menegaskan pentingnya memilih lokasi pembelajaran yang sesuai dengan potensi dan persoalan desa peserta. Desa yang memiliki hutan bambu, misalnya, akan memperoleh pembelajaran lebih relevan dari destinasi yang telah berhasil mengembangkan konservasi, budidaya, kerajinan, kuliner, dan pengalaman wisata berbasis bambu.

Relevansi tersebut memudahkan masyarakat menghubungkan apa yang dilihat dengan sumber daya yang dimiliki. Pembelajaran juga tidak berlangsung secara individual. Pang et al., (2024) memperkenalkan konsep communities of learning and practice.

Pariwisata perlu dikembangkan melalui komunitas pembelajaran yang menghubungkan masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, dan pelaku industri. Hubungan tersebut diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan dan memperlancar kolaborasi serta transfer pengalaman.

Dengan demikian, pembelajaran lapangan bukan perjalanan untuk mengumpulkan foto. Pembelajaran lapangan merupakan ruang perjumpaan antarpelaku, tempat pengalaman dari satu destinasi dipelajari, dianalisis, dan diolah menjadi solusi bagi destinasi lainnya.

Tiga Tahun Pembelajaran Desa Belik

Pengalaman Desa Belik, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menunjukkan bagaimana pembelajaran lapangan dapat dirancang secara bertahap. Selama tiga tahun, kebutuhan pembelajaran berkembang dari penguatan pola pikir dan tata kelola menuju penciptaan produk, nilai tambah ekonomi, kreativitas, serta diferensiasi pengalaman wisata.

Pada 2024, pembelajaran lapangan dilakukan di Desa Penglipuran, Bali. Lokasi ini dipilih karena mampu memperlihatkan hubungan antara kelembagaan, aturan, kedisiplinan masyarakat, kebersihan, pelayanan, pengelolaan UMKM, dan pelestarian budaya.

Di Penglipuran, peserta tidak hanya melihat desa yang bersih dan tertata. Mereka dapat mengamati bagaimana aturan dipatuhi, pelayanan diberikan secara konsisten, usaha masyarakat dihubungkan dengan aktivitas wisata, dan budaya ditempatkan sebagai identitas destinasi.

Pembelajaran tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga oleh organisasi masyarakat yang mampu bekerja secara disiplin dan berkelanjutan. Hasil pembelajaran kemudian diperkuat melalui pelatihan pelayanan prima, penerapan Sapta Pesona, pendampingan kelembagaan, serta pelibatan Karang Taruna.

Potensi pencak silat dan bantengan mulai ditempatkan sebagai bagian dari identitas wisata Desa Belik. Kelompok sadar wisata juga dibentuk untuk memperkuat pengelolaan destinasi

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |