Black September 2001 dan Refleksi Indonesia

11 hours ago 36

loading...

Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Foto/Dok. SindoNews

Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Pengajar Mata Kuliah “Etnisitas, Agama dan Identitas Politik”

HARI ini 25 tahun yang lalu, dunia telah digemparkan dengan peristiwa spektakuler, yaitu dua pesawat (American Airlines Penerbangan 11 dan United Airlines Penerbangan 175) menabrak menara World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington. Peristiwa itu adalah serangan 11 September 2001 atau acap disebut Black September (September Kelabu/Hitam).

Tragedi sejarah tersebut tidak pernah benar-benar terlupa dari rerimbun ingatan, terutama para survivors dan kita yang hidup hari ini. Memang, ia berhenti sebagai peristiwa, tetapi terus hidup sebagai ingatan, trauma, dan bahkan kebijakan politik. Singkatnya, gemanya masih terasa dalam politik global, perang melawan terorisme, politik Islam, dan relasi antara agama dan negara.

Bagi Indonesia, September Hitam bukan sekadar tragedi Amerika. Ia adalah cermin dan pelajaran sekaligus bahan refleksi. Tragedi tersebut memperlihatkan bagaimana kekerasan atas nama agama dapat merubah cara pandang dunia memandang agama. Setelah September Hitam, Islam acap dipersepsikan melalui lensa terorisme.

Sebagai satu akibat, Muslim di berbagai belahan dunia acap menghadapi kecurigaan, stereotip, dan diskriminasi. Dalam waktu yang sama, kelompok-kelompok ekstremis memperoleh panggung baru untuk mengklaim bahwa dunia sedang berperang terhadap Islam.

Karenanya, terorisme tidak hanya membunuh manusia, tetapi juga berusaha membajak makna agama. Indonesia memiliki pengalaman yang sangat berharga dalam menggumuli persoalan ini.

Bom Bali 2002, yang terjadi hanya setahun setelah 9/11, menjadi pengingat pahit bahwa ekstremisme kekerasan bukanlah fenomena yang jauh dari kehidupan kita. Berbagai aksi teror atas nama agama setelahnya memperlihatkan bahwa jaringan ideologis transnasional dapat menemukan ruang di tengah masyarakat yang secara historis dikenal sebagai moderat dan plural.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |