Satu Lagi Pesawat Tempur AS Ditembak Jatuh Iran, Ini Kecanggihan E-3 AWACS

5 hours ago 25

loading...

Satu Lagi Pesawat Tempur AS Ditembak Jatuh Iran. Foto/Daily

BERLIN - Iran menembakkan rudal yang mengenai pesawat komando dan kendali E-3 AWACS milik AS di sebuah pangkalan di Arab Saudi pada tanggal 27 Maret. Ini dianggap sebagai kerugian yang signifikan bagi Angkatan Udara AS.

Pada 27 Maret, Iran menyerang Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi dengan rudal balistik, menghancurkan salah satu pesawat komando E-3 Sentry AWACS yang diparkir di landasan pacu.

Lebih dari 10 tentara Amerika terluka, dua di antaranya luka serius. Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak berkomentar.

Ini bukanlah serangan biasa. E-3 AWACS adalah sistem komando dan kendali udara AS yang mampu melacak ancaman dalam radius 400 km, mengoordinasikan jet tempur, pengisian bahan bakar, pengeboman, dan pengumpulan intelijen di lapangan. Dalam konflik dengan Iran, AWACS ditugaskan untuk melacak drone Shahed, mengoordinasikan pesawat tempur F-35, dan mengelola jaringan rudal pencegat.

Masalah seriusnya adalah tidak ada yang dapat menggantikannya dalam jangka pendek. Seluruh Angkatan Udara AS hanya memiliki 16 pesawat E-3 Sentry yang tersisa. Peralatanmiliterini berbasis pada rangka pesawat Boeing 707, yang produksinya dihentikan pada tahun 1992.

Saat ini, enam pesawat jenis ini dikerahkan di Timur Tengah, yang mewakili hampir 40% dari total jumlah pesawat jenis ini dalam inventaris militer AS. Sementara itu, pesawat pengganti E-7 Wedgetail mengalami penundaan dan diperkirakan baru akan tiba paling cepat pada tahun 2028.

Kerusakan pada E-3 digambarkan sebagai parah. Beberapa penilaian menunjukkan bahwa pesawat tersebut "mungkin tidak lagi beroperasi," yang berarti jumlah total pesawat AWACS yang tersedia dapat berkurang menjadi 15, dengan tingkat kesiapan misi hanya sekitar 56%.

"Kehilangan sebuah pesawat E-3 merupakan masalah yang sangat serius mengingat pentingnya sistem kendali tempur ini. Militer AS perlu mempercepat pengadaan pesawat E-7 generasi berikutnya untuk mengimbangi kerugian tersebut," komentar Heather Penney, Direktur Riset di Mitchell Institute for Aerospace Studies.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |