Rupiah Tertekan ke Rp17.758, Perang Timur Tengah hingga The Fed Bayangi Pasar

10 hours ago 27

loading...

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Jumat, dengan penurunan 5 poin atau 0,03% ke level Rp17.758 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal terkait ketegangan geopolitik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta perhatian pasar terhadap kondisi fiskal dan risiko inflasi domestik.

"Pasar justru lebih mencermati tanda-tanda bahwa Arab Saudi mungkin dapat memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya, yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) pekan lalu," tulis Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Jumat (18/9/2026).

Baca Juga: The Fed Nekat Naikkan Suku Bunga AS, Donald Trump Murka

Ibrahim menjelaskan, pertempuran baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran menambah risiko terhadap pasokan minyak dunia di tengah konflik yang sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Namun, prospek pasokan masih tidak pasti setelah Iran melaporkan serangan terhadap kapal tanker berbendera Togo yang disebut melakukan pelayaran ilegal di Selat Hormuz.

Sentimen geopolitik turut dipengaruhi perkembangan diplomasi dan kebijakan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan keputusan terkait aksi militer terhadap Iran, sementara China mendorong Washington dan Teheran menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz.

Dari sisi kebijakan moneter, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Sikap hawkish pejabat The Fed, termasuk pandangan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga dan likuiditas global.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |