Perubahan AS dalam Perang Iran 2026: Tanda Kekalahan?

2 hours ago 23

loading...

Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews

Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

PADA setiap perang yang berkecamuk, termasuk perang antara Iran-Amerika Serikat (AS), terdapat dua medan yang selalu berjalan beriringan, yaitu medan tempur dan medan kepercayaan. Adapun medan tempur dipenuhi dentuman, sedangkan medan kepercayaan dilingkupi keraguan.

Dan, acap kekalahan pertama satu pihak yang lebih dahulu mengangkat senjata terjadi di medan kepercayaan, sebelum kekalahan menjelma nyata di medan tempur. Tanda-tanda kekalahan di medan kepercayaan jarang diumumkan secara terang-terangan.

Namun, ia acap hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti kebingungan strategi, perubahan tujuan perang, demonstrasi domestik yang masif, dorongan gencatan senjata, klaim dan narasi kemenangan, dan—yang paling simbolik—pergantian jenderal. Hal terakhir inilah yang akan dijelaskan dalam opini singkat ini.

Lebih dari sebulan perang Iran 2026 telah terjadi, Amerika Serikat (AS) di bawah komando Donald Trump memperlihatkan pola itu secara jelas di medan kepercayaan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth memimpin perombakan untuk menempatkan jenderal yang lebih selaras dengan agenda serangan cepat yang dikehendaki Trump.

Sejumlah jenderal yang diganti adalah Jenderal George, Jenderal David Hodn, dan Mayor Jenderal William Green Jr. Di sini, pergantian sejumlah jenderal bukan lagi sekadar dinamika organisasi militer, melainkan juga cermin retaknya kepercayaan antara kekuasaan politik dan rasionalitas strategis militer. Singkatnya, bagi Trump, pergantian itu refleksi dari kegelisahan yang lebih dalam: krisis kepercayaan dalam tubuh kekuasaan itu sendiri.

Sejak awal, seperti kebanyakan pandangan analis, termasuk penulis, perang Iran ini berdiri di atas fondasi yang tidak kokoh. Ia seperti istana pasir di pantai yang mudah hancur oleh terjangan ombak. Perang ini tidak memiliki garis depan yang jelas, dan juga tidak memiliki musuh yang sepenuhnya konvensional. Narasi pemerintah AS acap bergeser, sejak dari serangan “pembelaan diri”, pembatasan program nuklir, hingga regime change (perubahan rejim).

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |