Kolaborasi Akademisi dan Aktivis Menjawab Krisis Lingkungan

2 hours ago 22

loading...

Ketua IATL ITB, Chitra Retna Septyandrica, saat membuka FOKAL. Foto: Istimewa

BANDUNG - Saat ini, Indonesia menghadapi tiga krisis lingkungan yang saling berkaitan, persoalan sampah, pencemaran air, dan perubahan iklim. Tidak hanya berdampak pada ekosistem, ketiga isu itu juga mempengaruhi kesehatan masyarakat dan kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, kesadaran dan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap permasalahan lingkungan masih harus ditingkatkan. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang diangkat dalam acara Forum Akademisi dan Aktivis Lingkungan (FOKAL) dengan tema “Waste, Water, and Climate: Where Knowledge Meets Collective Action”, yang diadakan Ikatan Alumni Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (IATL ITB) di Aula Timur ITB, Bandung, Rabu (8/4/2026).

Influencer yang sudah dikenal sebagai pegiat lingkungan, Pandawara, mengungkap fakta mengejutkan di awal-awal mereka menjalankan aksi clean up. “Sebelum kami membersihkan saluran air, kami minta izin dulu pada Pak RW setempat, lalu setelah kami selesai, ditanya mana uang kopi, yang ada kan harusnya kami yang membersihkan yang dapat kopi,” kelakar salah satu anggota Pandawara Rifki Sa’dulah.

Baca juga: Pandawara Group Raih Kreator Konten Sosial Paling Berdampak Digital Innovation Awards 2025

“Secanggih-canggihnya teknologi, tanpa kesadaran yang dibangun di masyarakat, di pemerintah, di komunitas, di pribadi masing-masing, maka akan percuma,” sambungnya.

Selain unsur kesadaran yang rendah, yang tak kalah penting adalah mengubah stigma yang sudah telanjur ada di masyarakat. “Masyarakat masih menganggap kegiatan membersihkan lingkungan, mengurus sampah, itu sebagai sesuatu yang hina, yang kucel, ini yang perlu diubah supaya masyarakat melihat bahwa menjaga lingkungan itu sesuatu yang keren,” kata rekan Rifki, Mochamad Agung Permana.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |