Urgensi Investasi Keamanan Siber: Dari Teknis ke Meja Direksi

6 hours ago 57

loading...

Dr. Arif Rahman Hakim, Pengamat Keamanan dan Ketahanan Siber. Foto/SIndoNews

Dr. Arif Rahman Hakim
Pengamat Keamanan dan Ketahanan Siber

DI era ketika ruang digital menjadi fondasi utama operasional dan keberlangsungan bisnis, tata kelola keamanan siber sedang mengalami pergeseran paradigma yang fundamental. Selama berdekade-dekade, anggaran keamanan siber dikategorikan sebagai beban biaya teknologi informasi yang terus membengkak dan sebisa mungkin ditekan. Namun, lanskap ancaman modern, mulai dari ransomware-as-a-service, serangan rantai pasok (supply chain attacks), hingga risiko dekripsi kuantum di masa depan, membuktikan satu hal: keamanan siber bukan lagi urusan teknis unit IT, melainkan investasi bisnis wajib (mandatory investment) yang menentukan kelangsungan hidup perusahaan.

Tantangan selanjutnya yang dihadapi sektor industri saat ini bukan terletak pada ketiadaan teknologi pengamanan, melainkan pada jurang komunikasi (communication gap) antara technical ground dan boardroom.

Tim teknis mengekspresikan risiko menggunakan bahasa teknis, seperti vulnerability score, patching management, firewall rules, dan log analysis. Sebaliknya, jajaran Direksi (Board of Directors) dan Komisaris berpikir dalam bahasa risiko bisnis, seperti return on investment (ROI), revenue protection, regulatory liability, dan reputational damage. Ketika dua bahasa ini tidak bertemu, keputusan investasi siber yang strategis kerap tertunda hingga insiden benar-benar terjadi. Sebagai contoh, keputusan memangkas anggaran pemeliharaan demi efisiensi jangka pendek sering kali berujung fatal ketika sistem kritis bisnis yang tidak terperbarui (unpatched) berhasil dieksploitasi ransomware, mematikan operasional perusahaan selama berhari-hari dan memicu kerugian finansial hingga miliaran rupiah.

Untuk menjembatani jurang tersebut dan menjadikan keamanan siber sebagai investasi strategis di tingkat eksekutif, industri perlu mengadopsi tiga pendekatan utama: (1) kuantifikasi risiko siber ke dalam nilai finansial, (2) memosisikan keamanan siber sebagai business enabler, dan (3) membangun budaya tone at the top.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |