Toraja dalam Lensa: Saat Leluhur Bicara lewat Cahaya

12 hours ago 52

loading...

Pameran foto bertajuk Toraja, Rumah Para Leluhur: Tradisi yang Menantang Waktu digelar di ruang galeri IFI Wijaya, Jakarta, mulai 27 Agustus-7 September 2025. Foto: Sindonews

JAKARTA - Di sebuah ruang galeri IFI Wijaya yang hening, cahaya lampu jatuh lembut ke dinding-dinding putih. Deretan foto tergantung, bukan sekadar karya visual melainkan pintu menuju sebuah dunia: Toraja . Dunia di mana hidup dan mati berpelukan, di mana leluhur bukan sekadar kenangan melainkan bagian dari keseharian.

Pameran foto bertajuk “Toraja, Rumah Para Leluhur: Tradisi yang Menantang Waktu” ini menghadirkan potret budaya Toraja dengan kedalaman yang jarang tersentuh. Setiap bidikan kamera menangkap denyut tradisi dari kemegahan upacara Rambu Solo’, keheningan tahu-tahu yang berdiri gagah di tebing batu hingga ritual Ma’nene yang membuat arwah dan keluarga kembali bersua.

Baca juga: Dukung Dunia Digital Pariwisata Indonesia Melalui Pameran Foto

“Toraja mengajarkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi perjalanan pulang. Foto-foto ini adalah upaya untuk merekam pesan itu agar tak hilang di tengah zaman,” ujar Hasiholan Siahaan, kurator pameran dalam pembukaan di Jakarta, Rabu (27/8/2025).

Lebih dari sekadar dokumentasi, karya-karya ini menghadirkan rasa. Potret wajah-wajah tua yang penuh garis pengalaman, kerbau belang yang dihormati, anak-anak yang berlari di halaman tongkonan, semuanya menjadi jendela ke dalam jiwa masyarakat Toraja.

Pengunjung bukan hanya melihat gambar melainkan ikut menyelami filosofi Aluk To Dolo, kepercayaan leluhur yang menata kehidupan dan kematian.

Menurut Ketua Pelaksana Ian Sutisna, di era modern yang sering mengaburkan identitas, pameran ini menjadi pengingat bahwa budaya adalah jangkar. “Toraja berdiri sebagai saksi bahwa kehidupan dan kematian dapat disatukan lewat penghormatan pada leluhur,” katanya.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |