Syarat Istithaah Sukses Tekan Angka Jemaah Haji Indonesia Sakit Pascaarmuzna

10 hours ago 35

loading...

Plt Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Dani Pramudya mengatakan, syarat istithaah sukses tekan angka jemaah haji Indonesia sakit pascaibadah armuzna. Foto/MCH 2026

MAKKAH - Fenomena lonjakan pasien rawat inap yang biasanya menghantui pascapuncak haji (Armuzna) kini mulai dapat dikendalikan dengan sangat baik. Otoritas kesehatan mencatat kemerosotan jumlah jemaah haji Indonesia yang jatuh sakit jika dikomparasikan dengan grafik rekam medis pada musim operasional tahun lalu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Dani Pramudya, membeberkan data okupansi ranjang perawatan saat ini hanya menyentuh kisaran 210 pasien. Penurunan kuantitas jemaah yang sakit ini sangat melegakan, mengingat tahun lalu KKHI sempat diserbu oleh lebih dari 300 jemaah.

Dia menegaskan resep utama di balik penurunan statistik ini adalah berkat ketegasan pemerintah menerapkan syarat istithaah (kelayakan medis) sejak dari daerah asal. Jemaah yang terdeteksi tidak layak terbang akibat penyakit bawaan kronis telah lebih dulu diseleksi untuk tidak memaksakan diri.

Baca juga: Fase Puncak Haji di Mina Tuntas, Menhaj Apresiasi Ketertiban Jemaah Haji Indonesia

"Tapi sekarang karena kita perketat istithaahnya ya alhamdulillah (menurun)," tegas Dani Pramudya memberikan penekanan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Aziziyah, Makkah, Jumat (5/6/2026).

Meski angka kesakitan sukses ditekan, ancaman kelelahan fatal pascamelempar jumrah tetap menjadi momok mengerikan bagi jemaah kategori lanjut usia. Otot dan sendi jemaah yang sudah dipaksa berjalan puluhan kilometer di bawah sengatan matahari Arab Saudi akhirnya mengalami titik kolaps.

"Faktor pertama memang karena kelelahan pascaibadah di Armuzna, itu memang paling banyak kasusnya karena kelelahan," ucap Dani menganalisis akar masalahnya.

Lihat video: Musim Haji 2026 Selesai, Kloter Pertama Jemaah Haji Indonesia Pulang ke RI

Ancaman ini semakin mematikan apabila kelelahan fisik tersebut bersinggungan langsung dengan riwayat komorbid seperti diabetes dan darah tinggi. Jemaah dengan kadar gula darah tidak terkontrol bahkan mengalami mati rasa pada bagian tubuh perifer, seperti kedua belah telapak kaki.

Dokter Dani membagikan kisah memilukan seorang jemaah yang tidak menyadari telapak kakinya melepuh usai nekat menginjak aspal mendidih di Makkah. Rusaknya jaringan saraf akibat komplikasi diabetes membuat jemaah tersebut kehilangan refleks rasa sakit saat kulitnya terpanggang suhu gurun.

"Jadi tidak terasa kakinya itu dia menginjak aspal yang panas, jadinya ada terbakar," cerita Dani menggambarkan kondisi di lapangan.

Sadar akan keterbatasan alat di klinik darurat, pemerintah membangun aliansi strategis dengan jaringan rumah sakit terbesar di Kota Makkah. Jemaah yang dicurigai menderita komplikasi organ dalam langsung dievakuasi untuk perawatan ke Rumah Sakit An-Nur dan Saudi German Hospital (SGH).

"Karena mereka (jemaah) kekhususan ada spesialisnya misalnya jantung, terus kemudian paru-paru, memang kita kerjasamanya dengan SGH," urai Dani memaparkan prosedur rujukannya.

Kini, fokus utama tim medis beralih pada upaya pencegahan agar tidak ada jemaah yang tumbang akibat telat makan saat mengantre kepulangan ke Indonesia. Dani memohon seluruh jemaah untuk beristirahat mutlak di dalam kamar hotel sembari memulihkan nutrisi tubuh menjelang hari penerbangan.

(cip)

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |