loading...
Mette-Marit, ratu baru Norwegia dulu dikenal suka berpesta dan dijuluki pendosa. Foto/X/@MyLordBebo
OSLO - Mette-Marit berusia 25 tahun, seorang ibu tunggal yang belum menikah dan berasal dari kalangan rakyat biasa, ketika ia bertemu dengan Putra Mahkota Norwegia saat itu, Haakon, di festival musik Quart di kota asalnya, Kristiansand, pada tahun 1999.
"Saya hanya menatapnya. Dia bagaikan cahaya," tulis Haakon—yang naik takhta menjadi raja pada hari Jumat (28 Agustus)—dalam otobiografinya.
Mereka berhasil menjalin hubungan secara diam-diam selama beberapa bulan sebelum kabar tersebut bocor ke publik.
"Apa yang terjadi antara Haakon dan saya adalah hal yang terjadi di antara dua orang biasa," ujar Mette-Marit kepada para wartawan, menepis upaya awal yang mencoba menggambarkan dirinya sebagai sosok Cinderella di dunia nyata.
Media juga menyoroti sisi-sisi negatif, mendesaknya untuk membeberkan detail gaya hidupnya saat ia menjadi bagian dari kancah musik house di Norwegia, serta mempertanyakan kepatutan seseorang dengan latar belakang demikian untuk masuk ke dalam keluarga kerajaan.
Haakon dan ayahnya, Raja Harald—yang juga menikahi seorang wanita dari kalangan rakyat biasa—tetap mendukungnya. Namun, itu hanyalah awal dari serangkaian benturan yang sangat menyakitkan antara kehidupan pribadi dan kehidupan publiknya. "Rasa tidak nyaman dari tahun itu masih membekas pada diri saya. Perasaan diburu itu sungguh luar biasa beratnya," ujarnya sebagaimana dikutip dalam buku Haakon.
"Saya bisa pastikan, tidak ada sisi romantis sama sekali saat dosa-dosa Anda 'dibersihkan' di hadapan publik. Rasanya mengerikan."
Ratu baru Norwegia ini lahir dengan nama Mette-Marit Tjessem Hoiby di Kristiansand pada 19 Agustus 1973; ia adalah putri dari seorang ayah yang berprofesi sebagai jurnalis dan ibu yang bekerja sebagai pegawai bank. Orang tuanya bercerai saat ia masih kecil, dan ia pun tinggal bersama ibu serta saudara-saudaranya.
Mengenai masa-masa gemar berpesta, Mette-Marit mengatakan kepada para wartawan pada tahun 2001: "Saat itu, penting bagi saya untuk hidup dengan cara yang bertentangan dengan norma umum. Hal itu pula yang membuat saya menjalani kehidupan yang cukup bebas."
"Saya berada di lingkungan di mana berbagai hal diuji coba dan kami kerap melampaui batas-batas yang ada," tambahnya.

















































