loading...
Bittime menilai perdagangan futures kripto di Indonesia masih memiliki peluang untuk berkembang. FOTO/iStock Photo
JAKARTA - Bittime menilai perdagangan futures kripto di Indonesia masih memiliki peluang untuk berkembang seiring meningkatnya aktivitas perdagangan derivatif secara global. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diiringi penguatan edukasi agar investor memahami mekanisme, peluang, dan risiko instrumen futures.
“Futures memberikan fleksibilitas untuk mengambil posisi ketika pasar bergerak naik maupun turun. Namun, peluang tersebut harus diikuti pemahaman yang baik mengenai mekanisme dan risiko futures,” kata Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Transaksi Derivatif Kripto RI Capai Rp3,41 Triliun, Futures Kian Dilirik
Berdasarkan data yang diamati pada 3 September 2026, sekitar 73,44% akun berada pada posisi long pada kontrak ETHUSDT perpetual, sedangkan 26,56% berada pada posisi short, dengan rasio long/short 2,77. Pada BTCUSDT perpetual, posisi long mencapai 54,8% dan short 45,2%, yang menunjukkan kecenderungan posisi long lebih dominan pada Ethereum saat pengamatan.
Meski demikian, Bittime mengingatkan rasio long/short hanya menggambarkan posisi pasar pada waktu tertentu dan dapat berubah dengan cepat sehingga tidak dapat dijadikan kepastian mengenai arah harga aset. Secara global, data dan riset CoinMarketCap menunjukkan perdagangan derivatif pada periode tertentu berkontribusi sekitar 79% terhadap total volume perdagangan aset kripto dunia.
Di Indonesia, OJK mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital mencapai 22,93 juta akun. Bittime menilai besarnya basis pengguna tersebut membuka ruang bagi pengembangan pasar futures, namun peningkatan jumlah dan ragam instrumen perlu dibarengi pemahaman investor terhadap karakteristik perdagangan derivatif.


















































