Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang

19 hours ago 33

loading...

Korea Utara yang dipimpin Kim Jong-un marah setelah AS jual rudal canggih ke Korea Selatan. Korea Utara sebut langkah AS sebagai ekspor perang. Foto/KCNA

PYONGYANG - Pemerintah Korea Utara (Korut) yang dipimpin Kim Jong-un marah setelah Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan rudal canggih ke Korea Selatan (Korsel). Pyongyang menyebutnya sebagai "ekspor perang", memperingatkan bahwa langkah tersebut akan memperdalam ketegangan di Semenanjung Korea.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan KCNA, Sabtu (13/6/2026), seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Korea Utara menuduh Washington dan Seoul secara sistematis memperketat kolusi dan hubungan militer mereka untuk mendorong ketegangan di Semenanjung Korea dan sekitarnya ke titik ekstrem.

Baca Juga: Kim Jong-un Janji Tingkatkan Bom Nuklir Secara Eksponensial, Sebut Musuh Korut Sangat Ganas

“Ekspor senjata AS adalah ekspor perang, dan impor senjata Amerika berarti menumpuk ketegangan dan konfrontasi,” kata pejabat itu, mengecam apa yang digambarkan Pyongyang sebagai upaya AS dan Korea Selatan untuk memperluas kemampuan militer dengan mengorbankan stabilitas regional.

Pernyataan tersebut menyusul persetujuan Departemen Luar Negeri AS atas penjualan paket senjata senilai hampir USD300 juta ke Korea Selatan, yang mencakup 70 rudal udara-ke-udara jarak menengah canggih AIM-120C-8 dan peralatan terkait. Washington mempromosikan penjualan tersebut sebagai upaya memajukan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan AS, meskipun kesepakatan tersebut masih menunggu peninjauan Kongres.

Pyongyang mencatat bahwa Washington telah menyetujui beberapa paket senjata lain untuk Korea Selatan dalam beberapa minggu terakhir, termasuk helikopter Angkatan Laut, helikopter serang, dan bom berpemandu senilai miliaran dolar, dan menunjuk pada perjanjian pertahanan 2025 di mana Seoul berjanji untuk membeli peralatan militer AS senilai USD25 miliar pada tahun 2030.

Menurut Pyongyang, kesepakatan tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengubah Korea Selatan menjadi "pos terdepan konfrontasi yang intens" dan mengeklaim bahwa penjualan senjata AS di seluruh wilayah, termasuk ke Jepang dan Taiwan, memicu ketegangan di Asia-Pasifik.

“Mengingat upaya provokatif AS dan sekutunya untuk membangun angkatan bersenjata mereka, posisi jelas DPRK adalah untuk menghilangkan ancaman baru dengan terus meningkatkan dan memperkuat pencegahan pertahanan diri,” kata pejabat itu, yang menggunakan singkatan nama resmi Korut; Democratic People's Republic of Korea.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |