Cap Go Meh Gala Feast Hidupkan Warisan Peranakan di House of Tugu Jakarta

4 hours ago 17

loading...

House of Tugu Jakarta kembali gelar Cap Go Meh Gala Feast. Foto: Dok House of Tugu

JAKARTA - Di tengah gemerlap Kota Tua, Cap Go Meh Gala Feast di House of Tugu Jakarta kembali digelar. Perjamuan ini merayakan penutup Tahun Baru Imlek melalui tradisi kuliner Peranakan. Program berlangsung hingga 31 Maret 2026. Babah Koffie by Kawisari menjadi panggung utama pengalaman bersantap tersebut. Pengunjung menikmati hidangan khas yang menyimpan kisah panjang akulturasi budaya. Tradisi Cap Go Meh pun kembali hidup melalui Cap Go Meh Gala Feast.

Cap Go Meh dikenal sebagai malam kelima belas dalam dialek Hokkien. Momen ini menutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Tradisi tersebut tumbuh sejak masa Batavia dan berkembang dalam budaya Peranakan. Dari pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara lahirlah berbagai hidangan unik. Karena itu Cap Go Meh tidak hanya perayaan keluarga. Peristiwa ini juga menyimpan sejarah kuliner yang terus diwariskan.

House of Tugu Jakarta menghadirkan perjamuan ini dengan pendekatan naratif. Babah Koffie by Kawisari dipilih sebagai ruang utama penyelenggaraan. Restoran tersebut memang dirancang merawat tradisi Peranakan sejak awal berdiri. Interior antik dan koleksi artefak mengisi setiap sudut ruangan. Selain itu dapur restoran berpegang pada resep Jawa-Tionghoa klasik. Dengan demikian pengalaman makan terasa seperti perjalanan lintas zaman.

Baca Juga : Bobon Santoso Meriahkan Festival Cap Go Meh Singkawang 2026, Harmoni Budaya di Tengah Ramadan

Kopi yang disajikan turut memperkaya cerita sejarah. Biji kopi berasal dari Perkebunan Kawisari di Jawa Timur. Perkebunan tersebut berdiri sejak tahun 1870. Hingga kini lahan itu masih menghasilkan kopi berkualitas tinggi. Setiap cangkir menghadirkan kisah panjang tanah dan tradisi. Karena itu pengunjung merasakan hubungan antara sejarah dan cita rasa.

Tiga Hidangan Ikonik, Satu Perjamuan
Cap Go Meh Gala Feast menampilkan tiga sajian utama sarat makna budaya. Hidangan pertama bernama Imperial Prawn Money Bag. Kulit tahu renyah membungkus udang segar dan water chestnut. Bentuknya menyerupai kantong uang sebagai simbol harapan rezeki. Uap tipis mengepul ketika mangkuk hitam dibuka. Presentasi dramatis ini menandai awal perjamuan.

Menu berikutnya adalah Tugu Lontong Cap Go Meh. Sajian ini memadukan lontong daun bambu dengan ayam opor resep pusaka. Resep tersebut diwariskan turun-temurun dalam keluarga. Pelengkapnya meliputi lodeh labu siam dan udang segar. Telur hitam, sate ayam, serta balado kentang tipis turut dihadirkan. Selain itu peyek kacang dan koya kedelai putih menyempurnakan hidangan.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |