loading...
Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian besar pada pasar keuangan global. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian besar pada pasar keuangan global yang berdampak pada koreksi tajam aset aman konvensional. Di tengah situasi tersebut, Bitcoin justru menunjukkan resiliensi dengan mencatatkan kenaikan sekitar 12 persen dalam 60 hari terakhir dan bertahan di level 70.000 hingga 71.000 dolar AS per Selasa (24/3).
"Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik," ujar Vice President Indodax, Antony Kusuma dalam keterangannya di Jakarta.
Baca Juga: Bitcoin Melemah Usai Pertemuan The Fed, Investor Waspadai Sinyal Hawkish
Antony menjelaskan bahwa kinerja kuat Bitcoin saat terjadi krisis bukanlah fenomena baru. Pola serupa pernah terjadi pada masa pandemi COVID-19, ketegangan AS-Iran tahun 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina, yang membuktikan potensi aset kripto ini sebagai alternatif lindung nilai (hedging) yang praktis bagi investor.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan indeks S&P 500 yang turun sekitar 4 persen. Bahkan, harga emas mengalami koreksi hingga 16 persen atau menyentuh level 4.400 dolar AS per ons troi, yang menjadi penurunan terbesar sejak tahun 1983.
Kepala Strategi Logam JPMorgan, Greg Shearer, menyebutkan penurunan harga emas dipicu oleh aksi jual masif (sell-off) di tengah lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Tekanan tersebut diperkuat oleh penguatan dolar AS dan meningkatnya keuntungan obligasi, sehingga daya tarik emas menurun bagi investor institusional.


















































