loading...
Moch. Abduh, Ph.D - Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan. Foto: Dok Pribadi
Moch. Abduh, Ph.D
Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan
Sebagai bagian dari agenda prioritas nasional, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini dirancang tidak sekadar sebagai intervensi pemenuhan kebutuhan pangan bagi murid, tetapi sebagai kebijakan terintegrasi yang menyentuh dimensi kesehatan, pendidikan, dan pembangunan karakter. Dengan menyasar peserta didik jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan menengah, MBG diarahkan untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional sekaligus mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa MBG merupakan investasi jangka panjang pembangunan manusia. Program ini dipandang strategis karena berkaitan langsung dengan kesehatan murid, perkembangan kognitif, partisipasi belajar, kehadiran di sekolah, hingga upaya mengurangi kesenjangan pendidikan antarwilayah. Berbagai literatur nasional dan internasional menunjukkan bahwa intervensi makan bergizi di sekolah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan konsentrasi, fungsi kognitif, dan keterlibatan belajar murid. Dengan demikian, MBG tidak berdiri sebagai kebijakan sektoral, melainkan sebagai instrumen pendukung proses pembelajaran secara menyeluruh.
Gizi sebagai Fondasi Proses Pembelajaran
Hubungan antara pemenuhan gizi dan mutu pembelajaran memiliki dasar ilmiah yang kuat. Dalam rilis World Health Organization (WHO) bertajuk Healthy Diet: Fact Sheet (2018), dijelaskan bahwa keterkaitan gizi dan pendidikan dapat dipahami melalui pendekatan biopsikososial. Otak sebagai pusat aktivitas kognitif membutuhkan asupan nutrisi seperti protein, zat besi, yodium, serta vitamin untuk mendukung fungsi memori, atensi, dan pemrosesan informasi. Kekurangan zat gizi esensial berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan menurunkan kesiapan belajar.
Kajian klasik namun relevan dari Sally Grantham-McGregor dkk. (2007) dalam Developmental Potential in the First 5 Years for Children in Developing Countries menunjukkan bahwa defisiensi gizi, khususnya anemia akibat kekurangan zat besi, berkorelasi dengan rendahnya konsentrasi, mudah lelah, serta penurunan performa akademik. Anak dengan status gizi baik cenderung lebih sehat, memiliki energi yang cukup, dan mampu mengikuti pembelajaran secara aktif.


















































