Ramai Isu Seller Tinggalkan Marketplace, Data DOKU Justru Berkata Lain!

4 hours ago 38

loading...

Pribadi Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, menyebut ada fakta berbeda dari isu seller yang meninggalkan marketplace belum lama ini. Foto: DOKU

JAKARTA - Isu perpindahan penjual dari marketplace menjadi salah satu perbincangan paling ramai di kalangan pelaku usaha digital Indonesia sepanjang awal 2026.
Di media sosial, seruan untuk meninggalkan platform besar bermunculan setelah sejumlah penyesuaian biaya diberlakukan. Namun data yang dihimpun penyedia jasa pembayaran justru menggambarkan situasi yang lebih terukur daripada yang tergambar di lini masa.

Pribadi Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, menilai istilah yang selama ini dipakai kurang tepat untuk menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. "Sebenarnya perlu sedikit diluruskan bahwa pelaku UMKM bukan kabur, tapi melakukan penyeimbangan ulang. Yang terjadi di lapangan bukanlah eksodus. Brand tidak menutup toko mereka, melainkan menyeimbangkan ulang bisnis mereka agar tidak bergantung 100 persen pada satu platform," ujar Hasto dalam wawancara khusus dengan SINDOnews.

Menurut dia, langkah tersebut merupakan respons yang wajar terhadap kenaikan biaya berlapis di marketplace sepanjang tahun ini, termasuk penyesuaian biaya administrasi dan logistik pada 2026. "Ketika beban naik dua sampai tiga kali dalam setahun, wajar kalau brand mulai berhitung ulang. Dan yang mengubah perilaku sebetulnya bukan besarnya kenaikan, tapi keyakinan bahwa kenaikan itu bisa terjadi lagi. Itu yang membuat brand mulai membangun jaring pengaman," katanya.

Kegelisahan pelaku usaha itu telah sampai ke tingkat kementerian. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyatakan keluhan mengenai biaya platform masuk hampir setiap hari melalui pesan langsung Instagram, Facebook, maupun WhatsApp. Kementerian Perdagangan pun mempercepat revisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang antara lain mewajibkan platform e-commerce merinci seluruh komponen biaya kepada penjual. Menteri
Perdagangan Budi Santoso menyebut revisi tersebut telah memasuki tahap finalisasi pada pertengahan Mei 2026 silam.

Di sisi tarif, sejumlah marketplace memberlakukan kenaikan tarif layanan. Dari biasanya 1,5 persen menjadi 2 persen. Di beberapa kategori seperti fashion, misalnya, kenaikannya dari 5,5 persen menjadi 7,5 persen per transaksi. Terhadap pertanyaan mengenai adanya pergeseran kanal, Hasto lebih dahulu menjelaskan keterbatasan sudut pandang perusahaan.

"DOKU melihat transaksi yang berlangsung di kanal langsung merchant, bukan transaksi mereka di marketplace. Karena itu, kami tidak mengukur berapa banyak merchant yang meninggalkan marketplace. Yang dapat kami ukur adalah perkembangan kanal langsungnya," ujarnya. Dari sudut pandang tersebut, angkanya justru diluar dugaan. “Pada merchant yang aktif bertransaksi di kedua periode Januari-Juli 2025 dan Januari-Juli 2026, jumlah transaksinya meningkat lebih dari dua kali lipat, dan trend menunjukan akan semakin meningkat. Hal ini menunjukan brand lokal semakin sadar akan pentingnya kanal penjualan mandiri,” kata Hasto.

Pertumbuhan itu tidak terkonsentrasi pada segelintir merchant besar. Berdasarkan data internal DOKU pada periode Januari-Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, lebih dari sepertiga merchant berhasil meningkatkan jumlah transaksi di kanal mandirinya lebih dari dua kali lipat. Secara keseluruhan, separuh dari total merchant aktif juga mencatatkan pertumbuhan nilai transaksi setidaknya 20 persen.

Meski demikian, Hasto menolak membaca angka tersebut sebagai tanda berpindahnya pasar.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |