loading...
Menjawab badai kritik terkait keputusan mengimpor 70.000 pikap dari India, PT Agrinas Pangan Nusantara blak-blakan membongkar fakta minimnya kapasitas produksi dan ketiadaan harga diskon borongan dari pabrikan otomotif lokal. Foto: dok Sindonews
JAKARTA - PT Agrinas Pangan Nusantara buka suara merespons polemik impor puluhan ribu kendaraan niaga dari India.
Di tengah pusaran kritik yang mendesak penggunaan produk dalam negeri, Agrinas mengklaim bahwa industri otomotif domestik di 2026 yang dinilai gagap memenuhi kuota tenggat waktu, terbentur limitasi karoseri, serta enggan memberi harga khusus untuk pembelian borongan (bulk).
Pihak Agrinas beralasan bahwa mereka telah mengundang seluruh representasi produsen lokal di Indonesia untuk menyuplai armada Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Sayangnya, negosiasi tersebut berujung buntu.
Chief Executive Officer (CEO) Agrinas Joao Angelo De Sousa Mota mengklaim, Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata telah menyedot habis lini produksi lokal, menciptakan efek leher botol (bottleneck).
Kondisi ini tercermin dari rincian penawaran pabrikan lokal yang dibeberkan Agrinas:
1. Grup Astra (Isuzu & Toyota): Isuzu klaim Joao hanya sanggup menyuplai 900 unit. Hambatan utamanya adalah suplai karoseri lokal yang sudah penuh dibooking merek lain, sementara negosiasi Isuzu Traga 4x4 kandas akibat ketiadaan kesepakatan dengan diler.
2. Di kubu Toyota, harga Hilux 4x4 dan 4x2 tidak menemui titik temu, dengan kapasitas maksimal hanya 800 unit pada periode April hingga Mei 2026. Untuk model Hilux Rangga, Toyota hanya sanggup memproduksi secara inden sebanyak 400 unit per bulan, dengan patokan harga varian 4x2 yang diklaim 25 persen lebih mahal dari kompetitor.
3. Mitsubishi & Hino: Fuso menjadi pengecualian positif dengan menyepakati suplai 20.600 unit truk roda 6 yang akan diselesaikan hingga akhir tahun. Namun, penawaran Mitsubishi L300 mentok di kapasitas 750 unit per bulan, di mana harganya diklaim hampir sama persis dengan mobil 4x4 impor asal India yang akhirnya dipilih Agrinas.
4. Hino awalnya hanya sanggup memproduksi 120 unit per bulan, dan setelah melobi prinsipal Jepang, angka maksimalnya terkerek menjadi 10.000 unit.


















































