Piala Dunia 2026 dalam Bayang-Bayang Perang Amerika

1 day ago 26

loading...

Piala Dunia 2026 sejak awal diproyeksikan menjadi tonggak baru dalam sejarah sepak bola dunia. Turnamen ini untuk pertama kalinya diikuti 48 tim dari enam konfederasi, digelar di tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—dengan 16 kota tuan rumah. Namun, di balik ambisi besar FIFA, turnamen ini kini dibayangi ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas penyelenggaraan, terutama setelah eskalasi militer Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin.

Ajang akbar Piala Dunia tahun ini dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026, membawa format kompetisi baru yang lebih panjang, lebih padat, dan menjangkau wilayah yang lebih luas dibanding edisi-edisi sebelumnya. Di tengah ambisi mencetak sejarah baru, pesta sepak bola justru terancam dalam bayang-bayang perang.

Baca Juga: Bagaimana Nasib Piala Dunia 2026 Jika Keamanan AS Memburuk Buntut Penangkapan Maduro?

Situasi memanas usai operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi militer AS, 3 Januari 2026. Langkah Washington itu memicu kecaman luas dari sejumlah negara dan menciptakan guncangan geopolitik, bukan hanya di Amerika Latin, tetapi juga dalam konteks global. Ketegangan tersebut turut menyeret Piala Dunia 2026 ke pusaran spekulasi, mengingat Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah mayoritas pertandingan, termasuk fase gugur hingga final.

Secara politis, sejumlah negara Amerika Latin yang memiliki relasi panas dengan Amerika Serikat menjadi sorotan. Dari kawasan tersebut, Kolombia telah memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi CONMEBOL. Meksiko, sebagai salah satu tuan rumah, otomatis mengantongi tiket putaran final. Sementara itu, Kuba dipastikan tidak lolos dari kualifikasi zona CONCACAF, sedangkan Venezuela—yang berada di pusat konflik terbaru—juga gagal lolos ke putaran final. Meski demikian, status lolos atau tidaknya negara-negara tersebut tidak serta-merta meredam kekhawatiran akan dampak politik terhadap atmosfer turnamen.

Kekhawatiran itu kemudian berkembang menjadi wacana boikot. Di berbagai media internasional dan media sosial, muncul seruan agar negara-negara tertentu memboikot Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Isu ini mengingatkan publik pada keputusan FIFA dan UEFA pada 2022 yang mencoret Rusia dari seluruh kompetisi internasional menyusul invasi ke Ukraina. Namun, dalam konteks Amerika Serikat, situasinya tidak sesederhana itu.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |