Pengamat: Polemik Pandji-Gibran Membuka Debat Batas Kritik

3 hours ago 19

loading...

Pandji Pragiwaksono dalam acara Mens Rea. Foto/IG Pandji Pragiwaksono

JAKARTA - Pengamat Hukum dan Politik Pieter C Zulkifli buka suara merespons polemik seputar materi stand up comedy yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dalam acara Mens Rea. Terutama, yang menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Pengamat Hukum dan Politik Pieter C Zulkifli mengajak masyarakat untuk menimbang ulang makna kebebasan berekspresi dalam negara demokratis. Menurut Pieter, kritik tetap penting, tetapi penghormatan terhadap pilihan rakyat dan simbol negara tak boleh dikesampingkan demi tawa sesaat.

"Komedi politik sah dalam demokrasi, tetapi ketika humor menyentuh simbol negara, etika publik diuji. Polemik Pandji-Gibran membuka debat batas kritik," ujar Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Baca juga: Istri Pandji Pragiwaksono Tak Terima Anak Dihina Fisik Buntut 'Mens Rea'

Dalam demokrasi yang sehat, kata Pieter, kebebasan berekspresi bukan sekadar hak, melainkan pilar yang menyangga diskursus publik. Namun kebebasan itu bukan ruang tanpa batas. "Ia harus bertaut pada rasa hormat terhadap sesama warga negara dan terutama terhadap institusi yang menjadi simbol negara," tuturnya.

Pieter Zulkifli menilai bila kontroversi stand-up comedy Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono yang tayang di platform global Netflix adalah ilustrasi menarik sekaligus mengkhawatirkan bagaimana dua kekuatan besar humor dan politik dapat bertabrakan dalam wacana publik.

Dalam pertunjukan itu, dia menilai Pandji menyampaikan sindiran yang kemudian ditafsirkan oleh sebagian pihak sebagai komentar merendahkan terhadap wajah Wakil Presiden Gibran, dengan kata-kata yang menggambarkan ekspresinya 'seperti orang mengantuk'.

“Kritik semacam ini, meskipun dibungkus humor, telah memicu perdebatan di ruang publik serta laporan ke aparat penegak hukum oleh beberapa kelompok masyarakat,” imbuhnya.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |