Pahala Haji Mabrur: Bebas Dosa, Hilang Fakir, Nilai Jihad Wanita

4 hours ago 16

loading...

Pahala melaksanakan ibadah haji tidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga, haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa hingga bernilai jihad bagi kaum wanita. Foto ilustrasi/ist

Ternyata, pahala melaksanakan ibadah haji tidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga. Haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa sehingga seseorang kembali suci seperti baru dilahirkan, menghilangkan kefakiran, dan bernilai jihad bagi wanita.

DR KH. Syamsul Yakin MA, Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta menjelaskan, ganjaran pahala haji ini dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wassalam dalam sabdanya: “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Haji Mambrur dan Ciri-cirinya

KH Syamsul Yakin memaparkan, haji mabrur adalah haji yang diterima (maqbul). Ciri peraih haji mabrur adalah selalu menebar kebaikan dan perbaikan sepulang melaksanakan ibadah haji.

Baca juga: Doa Khusus di Hari Tasyrik, Jangan Lupa Amalkan!

Secara etimologi haji itu berarti menuju. Sedang secara terminologi, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, haji adalah pergi ke Tanah Suci untuk berziarah dengan cara khusus. Syaratnya, kata Syaikh Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib adalah Islam, baligh, berakal, merdeka, ada bekal dan kendaraan, aman dan mampu melakukan perjalanan. Untuk memperoleh haji mabrur tampaknya diperlukan sejumlah kesanggupan (istitha’ah).

Allah SWT mengindiskasikan hal ini, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran/3: 97). Kesanggupan, menurut pengarang Tasfir Jalalain, adalah memiliki perbekalan dan kendaraan.

Namun perbekalan dan kendaraan ini saja dipandang belum cukup, diperlukan kondisi badan yang fit dan prima baik dalam perjalanan, semasa melaksanakan ibadah haji, maupun saat kembali ke tanah air. "Karena itu, ibadah haji sebaiknya dilaksanakan selagi berusia muda agar dapat leluasa melaksanakan seluruh rangkaian rukun dan kewajiban haji secara paripurna,"tutur KH Syamsul Yakin.

Tidak seperti ibadah puasa, salat, dan zakat, ibadah haji adalah gabungan ibadah hati, badan, dan harta karena memerlukan biaya mahal. Oleh karena itu, melaksanakan ibadah haji bagi orang yang berusia muda tampaknya lebih mudah ketimbang orang yang berusia tua. Untuk itu menabung agar bisa beribadah haji selagi muda harus menjadi prioritas.

Beribadah haji selagi muda tidak hanya berefek positif bagi kehidupan pribadi, tapi juga kehidupan sosial. Para haji muda diharapkan berperan aktif di dalam kehidupan masyarakat sebagai role model dan agen perubahan. Harus ada yang menghapus stigma bahwa seorang haji itu adalah orang tua yang lemah secara fisik dan hanya menjalin ibadah vertikal ke langit.

Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menganalogikan pahala haji mabrur setara dengan jihad, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Apakah berarti kami harus berjihad?” Nabi SAW menjawab, “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR. Bukhari). Jihad dengan demikian identik dengan usia yang masih muda dan gagah berani.

Haji, Pralambang Kehidupan setelah Kematian

KH Syamsul Yakin juga menjelaskan, beribadah haji seperti pelaksanaan furgatorio (proses pemurnian) menuju paradiso (surga).

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |