Kisah Haru Sitimah, Guru SD di Kudus yang Tetap Mengajar di Tengah Keterbatasan

3 hours ago 21

loading...

Momen Mendikdasmen Abdul Muti bertemu dengan Sitimah, guru SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus. Foto/BKHM.

JAKARTA - Kisah Sitimah menjadi gambaran nyata perjuangan para guru di Indonesia yang tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi meski menghadapi berbagai keterbatasan. Selama lebih dari dua dekade mengabdi sebagai tenaga pendidik, ia telah melewati banyak tantangan demi mencerdaskan anak-anak bangsa.

Seusai waktu subuh, Sitimah sudah bersiap meninggalkan rumahnya di Kabupaten Boyolali dengan mengendarai sepeda motor. Saat sebagian orang baru memulai aktivitas pagi, guru sekolah dasar tersebut justru memulai perjalanan panjang menuju SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus , sekolah tempat ia mengabdi selama puluhan tahun.

Baca juga: P2G Sebut Ambisi Digital Nadiem Makarim Abaikan Realitas Guru di Daerah 3T

Setiap hari, ia harus menghabiskan waktu sekitar empat jam di perjalanan agar bisa hadir di kelas dan mengajarkan murid-murid membaca serta menulis. “Kurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah dzuhur dan sampai di rumah pukul 16,” ujarnya, melalui siaran pers, Jumat (15/5/2026).

Perjuangan Sitimah dari Guru Honorer hingga Menjadi CPNS

Sitimah memulai kariernya sebagai guru pada 2004 dengan status Guru Wiyata Bakti atau honorer. Selama bertahun-tahun, ia menerima honor yang sangat minim. “Tahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50 ribu per bulan. Lalu tahun 2008–2010 dapat bayaran Rp220 ribu,” kenangnya.

Kesempatan baru datang ketika pemerintah membuka formasi CPNS pada 2010. Setahun kemudian, Sitimah resmi diangkat sebagai CPNS dan ditempatkan di SDN 7 Getassrabi.

Baca juga: UNRI Latih Guru SD Pekanbaru Terapkan Koding dan AI dalam Pembelajaran Deep Learning

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |