loading...
Ilustrasi. Foto/Istimewa
Dharma Pongrekun
Pengamat Geopolitik Global
Membaca Krisis Sistemik di Balik Narasi Stabilitas Global
Di abad ke-21, negara jarang runtuh oleh dentuman meriam atau jatuhnya istana. Krisis tidak lagi hadir sebagai peristiwa dramatis yang mudah dikenali, melainkan muncul secara senyap melalui gangguan sistem.
Pemadaman listrik, terputusnya komunikasi, tersendatnya logistik, lumpuhnya sistem pembayaran, hingga kacaunya koordinasi institusi menjadi wajah baru krisis modern. Negara masih tampak berdiri dan pemerintahan tetap berjalan, tetapi sistem yang menopangnya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Di sinilah paradoks negara modern terletak. Semakin canggih, efisien, dan terdigitalisasi sebuah negara, semakin rapuh ia ketika satu simpul sistem terganggu.
Krisis hari ini bukan kegagalan negara dalam pengertian klasik, melainkan konsekuensi dari ketergantungan ekstrem pada sistem yang saling terhubung. Negara tidak runtuh secara formal, tetapi perlahan direduksi menjadi fungsi dari sistem yang menopangnya.
72 Jam hingga 7 Hari: Fase Paling Rapuh
Dalam kajian manajemen krisis dan ketahanan nasional, dikenal satu fase kritis yang relatif konsisten lintas negara dan konteks, yakni 72 jam hingga sekitar 7 hari pertama setelah gangguan besar terjadi. Pada rentang inilah sistem berada pada kondisi paling rapuh.
Cadangan energi mulai diuji, komunikasi terfragmentasi, distribusi logistik melambat, layanan kesehatan bekerja di bawah tekanan ekstrem, dan sistem pembayaran kerap berhenti total. Rentang waktu ini bukan ramalan, bukan ancaman, dan bukan teori konspirasi.
Ia merupakan karakter alamiah dari sistem kompleks yang saling bergantung. Blackout bukan penyebab utama krisis, melainkan akibat dari ketergantungan berlapis yang selama ini tersembunyi karena sistem berjalan relatif stabil dalam kondisi normal. Ketika satu simpul gagal, efek domino menjadi tak terelakkan.
Negara Maju dan Pengakuan Keterbatasan
Kesadaran akan kerentanan sistem bukan hal baru di negara-negara maju. Belanda, Jerman, Finlandia, Jepang, Denmark, dan sejumlah negara lain yang dikenal stabil dan rasional secara terbuka mengimbau warganya untuk mampu bertahan hidup mandiri setidaknya selama 72 jam apabila sistem negara mengalami gangguan.
Kampanye kesiapsiagaan tersebut bukan narasi ketakutan, melainkan pengakuan kebijakan yang jujur bahwa bahkan negara dengan tata kelola terbaik pun membutuhkan waktu ketika krisis besar terjadi. Pertanyaan utamanya bukan apakah negara gagal, melainkan apakah masyarakat memahami bagaimana sistem bekerja ketika gagal.


















































