loading...
Kemendukbangga/BKKBN mengerahkan Tim TPK untuk mengatasi trauma keluarga terdampak bencana di tiga provinsi. Foto/SindoNews
ACEH - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera sejak akhir November 2025 telah meninggalkan dampak fisik dan psikologis yang mendalam bagi masyarakat. Sebanyak 1.140 orang meninggal sementara ratusan ribu keluarga kehilangan rumah, mata pencaharian.
Selain kehilangan harta benda, sejumlah keluarga tercerai berai sehingga menimbulkan trauma yang membekas pada para korban. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN yang berfokus pada ketahanan keluarga, tidak tinggal diam dengan kondisi yang dapat mengancam stabilitas psikologis keluarga yang terdampak bencana. Kemendukbangga/BKKBN telah mengerahkan jajaran dan jejaring yang ada di lapangan untuk mengatasi problematika sistemik ini.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan pemulihan pascabencana harus lebih dari sekadar penyediaan kebutuhan material. Pihaknya mengingatkan untuk terus meluruskan niat dalam upaya pemberian bantuan termasuk trauma healing, yang disebutnya sebagai bagian dari menjaga kepastian masa depan keluarga.
Baca juga: BNPB: Huntara untuk Warga Aceh Ditargetkan Rampung Sebelum Ramadan
“Menurut saya ini bukan masalah penting dan tidak penting, tetapi semangatnya adalah memastikan keluarga yang pernah kena bencana, ada yang, mohon maaf, kehilangan keluarganya, ada yang meninggal dunia, kehilangan hartanya, bahkan mungkin kehilangan tanahnya. Bahkan ada yang hari ini belum ketemu keluarganya. Saya kira kita memahami suasana kebatinan itu dan tentu kita ikut prihatin,” ungkapnya, Rabu (31/12/2025).
Orang nomor satu di Kemendukbangga/BKKBN ini menegaskan jika tiga kelompok rentan yang menerima tekanan psikologis, juga merupakan elemen penting dalam siklus hidup yang begitu diperhatikan oleh kementeriannya.


















































