loading...
International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 menjadi tonggak bersejarah karena refleksi 100 tahun perjalanan pengembangan energi panas bumi di Indonesia sejak pertama kali dieksplorasi pada 1926. Foto/Dok
JAKARTA - Mengusung tema “Energy Self-Sufficiency for a Stronger Indonesia: Geothermal as the Baseload Driving Energy Transition and Security”, Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 berfungsi sebagai platform B2B dan kolaborasi global yang mempertemukan pemerintah, regulator, operator panas bumi , penyedia teknologi, investor, hingga rantai pasok industri pendukung.
Penyelenggaraan tahun ini menjadi tonggak bersejarah karena menandai refleksi 100 tahun perjalanan pengembangan energi panas bumi di Indonesia sejak pertama kali dieksplorasi pada tahun 1926. Sebagai forum dan pameran panas bumi terbesar di dunia, IIGCE 2026 dibuka dengan seremoni penandatanganan kerja sama dan peluncuran proyek-proyek strategis yang sejalan dengan visi swasembada energi Presiden Prabowo Subianto.
Langkah ini mempertegas komitmen bersama dalam menjadikan panas bumi sebagai baseload utama ketahanan energi nasional. Baca Juga: Bukan Sekadar Listrik, Panas Bumi Jadi Katalis Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Forum tahunan ini menyoroti pergeseran masif industri panas bumi yang kini berfungsi lebih dari sekadar pembangkitan listrik murni menuju ekosistem industri terintegrasi, mencakup pemanfaatan teknologi advanced drilling, integrasi AI dan IoT untuk pemeliharaan prediktif, pengelolaan air sisa (brine management), pemulihan mineral, hingga aplikasi industri hilir.


















































