Ini Isi Lengkap Nota Keberatan Nadiem Makarim

1 day ago 34

loading...

Mantan Mendikbud Ristek Nadiem Makarim membacakan nota keberatan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. Foto/SindoNews

JAKARTA - Mantan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim membacakan nota keberatan atau eksepsi terkait kasus yang menjeratnya. Pembacaan tersebut dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Dalam sidang tersebut, Nadiem didakwa merugikan negara sebesar Rp21 triliun. Tidak hanya itu, Nadiem juga didakwa didakwa menguntungkan diri sendiri dan orang lain dalam perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM).

"Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yaitu terdakwa Nadiem Anwar Makarim sebesar Rp 809.596.125.000," ujar jaksa dalam sidang tersebut, Senin (5/1/2026).

Baca juga: Nadiem Makarim Didakwa Rugikan Negara Rp2,1 Triliun

Menanggapi dakwaan tersebut, Nadiem langsung mengajukan eksepsi. Dalam eksepsinya, Nadiem mengaku tidak menyesali keputusannya menerima jabatan menteri.

Saya memilih jalan yang sulit. Saya memilih jalan yang tidak nyaman. Dan walaupun hati saya penuh dengan kesedihan dengan musibah yang saya hadapi sekarang, saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk menerima amanah sebagai menteri," ungkap Nadiem saat membacakan nota keberatannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (5/1/2026).

Berikut ini isi lengkap nota keberatan Nadiem Makarim:

Majelis Hakim Yang Mulia,
Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat,
Hadirin Sidang Yang Saya Hormati,

Mengawali Nota Keberatan Pribadi ini, perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan Nota Keberatan Pribadi sebagai keberatan terhadap Surat Dakwaan.

Perlu saya sampaikan di hadapan persidangan yang mulia ini, bahwa apa yang tertuang dalam Nota Keberatan Pribadi ini erupakan satu kesatuan dengan Nota Keberatan Tim Penasihat Hukum, Nota Keberatan Pribadi dan Tim Penasehat Hukum saya, sama sama menyampaikan keberatan bahwa Surat Dakwaan yang ditujukan kepada saya mengandung kekeliruan yang mendasar.

Oleh karena itu, saya memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim agar hal-hal yang saya sampaikan dalam Nota Keberatan Pribadi ini berkenan untuk diperiksa, dipertimbangkan, dan diputus sebagai satu kesatuan dengan hal-hal yang disampaikan oleh Penasihat Hukum saya

Majelis Hakim Yang Mulia,
Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat,
Hadirin Sidang Yang Saya Hormati,

Saya pertama ingin bersyukur kepada Allah SWT atas semua berkah yang diberikanNya dalam hidup saya. Saya dilahirkan dalam keluarga pejuang antikorupsi. Dari kecil saya disuruh orang tua duduk di meja makan mendengar aktivis-aktivis anti-korupsi berdebat mengenai arah negara kita. Dari orang tua saya, saya belajar nilai nilai kebangsaan yang berdasarkan integritas. Saya sangat beruntung, keluarga saya mampu mengirim saya kuliah ke luar negeri.

Tetapi setiap kali saya lulus , baik S1 maupun S2, saya selalu kembali ke Tanah Air. Walaupun banyak kenyamanan yang bisa saya dapatkan berkarier di luar negeri, Indonesia selalu menarik saya kembali. Memang Indonesia punya banyak masalah, tetapi di dalam permasalahan itulah saya merasa bisa berkontribusi.

Banyak orang tidak tahu sejarah Gojek yang penuh dengan keringat dan tetes air mata. Saya mengunjungi puluhan pangkalan ojek, hanya dengan bekal traktir kretek dan kopi saya berupaya meyakinkan mereka bahwa ada cara lebih baik untuk meningkatkan nafkah mereka. Orang menertawai saya di awal perjalanan Gojek, menuduh ojek tidak bisa dipercayai dan tidak profesional.

Tapi saya bertahun-tahun pantang mundur, dan
terbukti Ojol sekarang menjadi pilar ekonomi Indonesia. Gojek menghidupi lebih dari 3 juta masyarakat indonesia saat ini, baik driver maupun UMKM. Saya tidak mendirikan Gojek untuk memperkaya diri. Saya mendirikan Gojek karena saya melihat potensi ekonomi dari teman teman ojek yang tidak dilihat orang lain.

Sama juga perspektif saya dengan sistem pendidikan di Indonesia. Saya melihat potensi besar memperbaiki sekolah-sekolah di Indonesia yang berpuluhan tahun stagnan dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Saya sedih melihat kualitas sekolah kita ketinggalan dari negara-negara berkembang lainnya.

Orang tua saya selalu mengingatkan saya dari kecil , “Nadiem, jangan lupa, kesuksesan tidak ada artinya tanpa pengabdian.” Kata kata inilah yang menjadi dasar pertimbangan saya saat saya ditawarkan amanah untuk menjadi Mendikbud. Hampir semua orang di sekitar saya membujuk saya untuk menolak jabatan tersebut Mereka takut saya akan dihujat karena perubahan pasti akan dilawan. Mereka takut saya akan diserang karena saya tidak punya dukungan partai politik. Mereka bingung, kenapa di puncak kesuksesan saya di bisnis, saya mempertimbangkan suatu jabatan yang sudah pasti merugikan saya secara finansial dan reputasi.

Tetapi saya menerima amanah tersebut karena satu alasan - Negara memanggil. Generasi penerus bangsa memanggil. Menolak artinya menutup mata terhadap krisis pendidikan yang melanda negara kita.

Majelis Hakim Yang Mulia,
Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat,
Hadirin Sidang Yang Saya Hormati,

Selama 5 tahun mengabdi sebagai menteri justru kekayaan saya menyusut. Hilanglah kesempatan saya untuk mendapatkan saham tambahan yang diberikan kepada para pimpinan Gojek setelah saya keluar. Hilanglah gaji besar saya.

Hilanglah ketenangan batin saya. Sebagai menteri termuda, saya merasa kecil hati melihat menteri lainnya dengan anak-anak yang sudah dewasa, dengan mudah menjadwalkan rapat sampai malam, sowan ke berbagai tokoh, membangun dukungan politik. Dengan tiga putri balita saat itu, saya harus pulang setiap malam makan bersama mereka saya, membacakan buku, dan tidur di kamar anak sampai mereka pulas tidur.

Saya harus belajar menjadi ayah dan menteri di saat yang bersamaan, Dalam kementerian, saya harus belajar dari nol lagi, menghadapi hutan belantara birokrasi dan politik yang saya tidak kuasai. Semua kenyamanan sebelumnya saya lepas dengan ikhlas untuk mencoba memperbaiki masa depan anak anak indonesia. Mata saya tidak tertutup. Saya tahu saya sangat mungkin gagal. Saya tahu saya bisa dikorbankan. Tapi itulah resiko perjuangan. Karena saya tidak menguasai bidang birokrasi, pendidikan maupun politik maka saya harus cepat belajar dari orang-orang yang kenal dunia pendidikan dan birokrasi tapi memiliki integritas. Karena inilah saya mengumpulkan tim muda yang idealis dan kompeten sebagai staff khusus saya.

Majelis Hakim Yang Mulia,
Jaksa Penuntut Umum Yang Terhormat,
Hadirin Sidang Yang Saya Hormati,

Pak Jokowi memberikan saya tugas yang berat dan penting: untuk secepatnya melaksanakan digitalisasi di dunia pendidikan agar anak Indonesian tidak ketinggalan dalam era digital. Saya diberikan amanah untuk membangun platform teknologi untuk membantu kepala sekolah, guru, dan murid mengenal dunia baru pembelajaran di era teknologi. Karena sosok saya, anak anak muda dari sektor teknologi mau bergabung dan mengabdi kepada negara untuk membangun teknologi pendidikan.

Mereka pun mengorbankan karir dan keuangan mereka untuk bergabung dalam perjuangan saya. Sarana TIK seperti Laptop, Proyektor, dan Wifi router untuk sekolah menjadi keniscayaan untuk bisa memanfaatkan semua aplikasi yang dikembangkan, termasuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Saat Covid 19 melanda negeri, di mana sekolah di Indonesia ditutup selama hampir 2 tahun, kebutuhan untuk pembelajaran berbasis IT menjadi lebih urgen lagi. Inilah dasar dari program digitalisasi pendidikan, visi besar Pak Presiden Joko Widodo yang menjadi amanah saya sebagai Menteri.

Selama 5 tahun, kapal besar pendidikan mulai bergerak. Berkat akselerasi teknologi, 1 juta guru honorer bisa diangkat menjadi P3K dan mendapat nafkah yang layak. Sertifikasi PPG untuk guru bisa lebih mudah diraih secara online. 2 juta guru mengunduh aplikasi Platform Merdeka Mengajar untuk melakukan pelatihan kurikulum mandiri gratis yang menghemat trilliunan anggaran pelatihan. 100 ribu Guru Penggerak terekrut dan dilatih secara online untuk menjadi obor perubahan.

Ratusan ribu mahasiswa bisa menemukan semester magang di industri dan di luar negeri melalui Platform Kampus Merdeka. Tapi beda tipis perbedaan antara idealisme dan kenaifan. Yang terbukti dari kasus ini adalah saya lengah untuk mengantisipasi akan adanya resistensi terhadap perubahan. Bersama saya, anak anak muda yang idealis dan berani masuk dalam kementerian penuh dengan semangat tanpa menyadari perlawanan sengit yang akan kami hadapi.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |