loading...
Hilmi Gimnastiar Pemain Liga 4 yang Lepaskan Tendangan Kungfu Terancam Sanksi Sepak Bola Seumur Hidup
JAKARTA - Insiden pelanggaran keras yang menimpa pemain Perseta Tulungagung, Firman Nugraha, pada laga Liga 4 Zona Jawa Timur mendapat perhatian serius dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI . Ketua Komdis PSSI, Umar Husin, menegaskan bahwa keselamatan atlet merupakan prinsip utama yang tidak bisa ditawar dalam setiap kompetisi olahraga, termasuk sepak bola.
Umar menekankan, perlindungan terhadap atlet tidak hanya diatur dalam regulasi internal federasi, tetapi juga dijamin secara tegas dalam Undang-Undang Keolahragaan Nasional Nomor 11 Tahun 2022. Menurutnya, setiap pertandingan dapat ditunda, dihentikan, bahkan dibatalkan apabila mengancam keselamatan pemain maupun pihak lain yang terlibat.
“Keselamatan atlet adalah keutamaan. Dalam Undang-Undang Keolahragaan Nasional sudah diatur dengan jelas bahwa atlet tidak boleh dipaksa bermain dalam kondisi yang membahayakan, apalagi menjadi korban kekerasan,” ujar Umar menanggapi insiden brutal di Liga 4 Jatim.
Baca Juga: Tendangan Kungfu Coreng Liga 4 Jatim, Pemain Perseta Tulungagung Dibawa ke RS
Ia menjelaskan, secara khusus dalam sepak bola, aturan terkait perilaku pemain dan sanksi pelanggaran tertuang dalam Kode Disiplin PSSI. Penegakan aturan secara tegas dinilai penting untuk mencegah terulangnya aksi-aksi brutal yang dapat merusak iklim kompetisi.
“Tujuan kami adalah membantu federasi menciptakan kondisi sepak bola yang sehat, berkembang dengan baik, dan tidak merugikan pihak lain. Pihak-pihak yang mengancam atmosfer kondusif ini tentu harus ditertibkan melalui sanksi yang tegas,” tegasnya.
Umar menyebut, bentuk sanksi dapat berupa teguran, denda, hingga hukuman berat demi menegakkan fair play dan rule of the game. Bahkan, untuk pelanggaran yang dinilai sangat serius dan membahayakan keselamatan lawan, hukuman ekstrem seperti larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup bisa dijatuhkan.


















































