Gempa M7,8 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, Alarm Zona Megathrust yang Terlupakan

15 hours ago 32

loading...

JAKARTA - Gempa kekuatan M7,8 yang mengguncang selatan Filipina dan sebagian wilayah Sulawesi Utara dan memunculkan tsunami, pada Senin, 8 Juni 2026, pukul 06.37 WIB, seharusnya tidak dibaca sebagai peristiwa tunggal. Gempa ini adalah alarm keras, bukan hanya bagi Filipina, tetapi juga bagi Indonesia.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengungkapkan ketika bangunan runtuh dan laut bergerak tidak biasa, sesungguhnya yang sedang kita saksikan adalah pelepasan sebagian kecil dari energi besar yang telah lama tersimpan di bawah laut.

"Dalam hitungan detik, bangunan rusak, laut bergerak tidak biasa, dan kepanikan menyebar di pesisir. Bagi sebagian orang, ini adalah bencana yang datang tiba-tiba. Namun bagi ilmu kebumian, ini adalah bagian dari cerita panjang yang belum selesai," kata Daryono dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Baca Juga: Gempa Guncang Filipina, 15 Orang Tewas

Daryono menjelaskan bahwa kawasan ini bukan wilayah tektonik biasa. Ia adalah simpul kompleks beberapa sumber gempa potensial seperti Subduksi Lempeng Laut Filipina, Subduksi Cotabato dan Subduksi Ganda Lempeng Laut Maluku (Molluca Sea Double Subduction).

"Di kedalaman, zona subduksi bekerja tanpa henti, mengunci dan mengumpulkan energi selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika batas elastisitas itu akhirnya gagal menahan tekanan, lahirlah gempa besar, dan dlm banyak kasus, tsunami," jelasnya.

Kondisi Tektonik

Daryono juga menjelaskan bahwa kawasan timur Indonesia hingga Filipina merupakan salah satu wilayah dengan kompleksitas tektonik tertinggi di dunia, ditandai oleh interaksi multipel lempeng dan sistem subduksi yang saling berimpit.

Zona Subduksi Lempeng Laut Filipina, kata Daryono, memperlihatkan penunjaman lempeng samudra yang aktif dengan kecepatan konvergensi tinggi, menghasilkan aktivitas seismik intens serta potensi gempa besar dan tsunami. Sistem ini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan struktur tektonik di sekitarnya yang memperumit pola deformasi kerak.

Di bagian selatan Filipina, ungkap Daryono, Subduksi Cotabato menunjukkan karakter unik berupa sistem penunjaman yang relatif sempit namun aktif, dgn segmentasi yang kuat. Zona ini berasosiasi dgn deformasi kerak yang kompleks, termasuk pembentukan sesar naik dan sesar geser yang meningkatkan potensi gempa dangkal merusak. "Aktivitas di wilayah ini mencerminkan transisi antara dominasi subduksi dan deformasi intra-lempeng," katanya.

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |