Escape: Jalan Para Nabi Membangun Peradaban Utama di Tengah Dunia yang Kacau

4 hours ago 20

loading...

Fajar Suryono, Dosen Universitas Darunnajah Jakarta. Fok dok darunnajah

Fajar Suryono,
Dosen Universitas Darunnajah/Pakar Management SDM Lembaga Pendidikan Islam

SETIAP pagi, gawai kita menyuguhkan derita yang sama: konflik berkepanjangan, kejahatan yang merajalela, bencana alam silih berganti, dan hiruk-pikuk politik yang tak kunjung reda. Dunia seolah berpacu dalam kekacauan. Di tengah riuh rendah yang tak berkesudahan ini, banyak jiwa yang letih. Bukan sekadar lelah fisik, tetapi lelah batin yang mendalam. Stres, kecemasan, dan depresi menjadi epidemi sunyi di tengah peradaban modern.

Manusia merindukan ruang hening. Merindukan momen untukmelepaskan dirisejenak dari pusaran masalah. Dalam bahasa populer, ia disebutescape.

Namun, dalam khazanah Islam,escapebukanlah pelarian kalah atau menghindar dari realitas. Ia adalah strategi ilahiah yang dicontohkan para nabi: sebuah lompatan ke belakang untuk mengambil ancang-ancang yang lebih kuat, menyelami kedalaman jiwa, meraih bekal, lalu kembali membangun peradaban yang lebih unggul. Tiga kisah agung dalam Al-Qur'an mengajarkan kita tentang hakikatescapeyang membangun peradaban ini.

Gua Hira: Ketika Keheningan Melahirkan Risalah Peradaban

Jauh sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad SAW biasa menyendiri di Gua Hira, sebuah celah sempit di puncak Jabal Nur. Di tengah masyarakat Quraisy yang tenggelam dalam kegelapan jahiliyah—penyembahan berhala, penindasan, dan ketidakadilan—beliau mencari ketenangan dan kebenaran sejati. Berhari-hari bahkan bermalam-malam beliaubertahannuts, beribadah dan merenung di tempat sunyi itu.

Dari keheningan gua itulah, pada malam 17 Ramadhan, terjadi peristiwa agung yang mengubah sejarah dunia. Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَۚ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُۙ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
(QS. Al-'Alaq: 1-5)

Perhatikan, wahyu pertama bukan perintah shalat, puasa, atau zakat. Ia adalahperintah membaca—Iqra'!Ini adalah fondasi peradaban. Islam ingin membangun peradaban yang berbasis ilmu pengetahuan.

Ada tiga pilar utama dalam ayat ini.Pertama,Iqra'(literasi).Perintah membaca adalah gerbang menuntut ilmu. Tanpa kemampuan membaca, memahami, dan menelaah, mustahil sebuah peradaban dapat tegak.Kedua,Bismirabbika(transendensi).Aktivitas membaca harus dilandasi hubungan ketuhanan. Ilmu tanpa iman bisa menjadi bencana. Ilmu harus membawa kita semakin dekat kepada Allah.Ketiga,Alladzi Khalaq(kreasi-inovasi).Setelah berilmu dan beriman, luaran yang diharapkan adalah inovasi dan kreasi untuk kemaslahatan umat, meneladani sifat Allah Yang Maha Menciptakan.

Menariknya, kataiqra'diulang. Para ulama memaknai,Iqra'pertama adalah membaca untuk diri sendiri (belajar), danIqra'kedua adalah membaca untuk orang lain (mengajar). Dalam satu rangkaian wahyu, Allah telah mengajarkan siklus peradaban: belajar dan mengajar.

Setelah menerima wahyu, Rasulullah pulang dalam keadaan gemetar. Sayyidah Khadijah RA menenangkan beliau dengan kata-kata yang mengharukan:"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahim, membantu yang membutuhkan, memberi makan orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong mereka yang tertimpa musibah."(HR. Bukhari dan Muslim).

Read Entire Article
Budaya | Peduli Lingkungan| | |