loading...
Mantan Menkeu, Chatib Basri menilai bahwa anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) tidak bisa hanya dilihat dari faktor fundamental ekspor-impor atau pertumbuhan ekonomi semata. Foto/Dok
JAKARTA - Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan RI, Chatib Basri menilai bahwa anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak bisa hanya dilihat dari faktor fundamental ekspor-impor atau pertumbuhan ekonomi semata. Melalui analisis data secara kausalitas, ia menemukan bahwa faktor persepsi pasar terhadap risiko keuangan negara atau kredibilitas fiskal memegang peranan yang jauh lebih dominan.
"Yang bisa menjelaskan pelemahan rupiah faktor yang paling besar itu adalah risiko dari fiskal, di mana sekitar 23 persen pelemahannya sebetulnya bisa dijelaskan oleh pergerakan Credit Default Swap (CDS)," ujar Chatib dalam Grab Business Forum di Shangri-La Hotel, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Berdasarkan data tersebut, pelemahan rupiah rupanya sangat sensitif terhadap indikator CDS atau instrumen asuransi terhadap risiko gagal bayar utang, yang mencerminkan tingkat kepercayaan investor. Menariknya, memburuknya angka CDS Indonesia sudah mulai terlihat sejak Januari 2026, jauh sebelum ketegangan perang meningkat.
Baca Juga: Purbaya: Kebijakan Fiskal 2027 Diarahkan Dorong Ekonomi Makin Tinggi, Rakyat Sejahtera Lebih Cepat
Hal ini dipicu oleh keputusan Moody’s mengubah outlook ekonomi Indonesia menyusul kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang diprediksi mendekati angka tiga persen. Chatib menekankan, bahwa Indonesia tidak sedang berada di ambang resesi karena pertumbuhan ekonomi masih diproyeksikan stabil pada kisaran 4,5 hingga 5%.

















































