loading...
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH M Jumhur Hidayat. Foto/kemenlh.go.id
JAKARTA - Ajakan Menteri Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat untuk melakukan tobat ekologis dinilai sangat tepat dan relevan dengan problem lingkungan hidup saat ini. Menurut Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA Toto Izul Fatah, ajakan Jumhur tersebut patut disambut positif.
"Ajakan Pak Menteri Jumhur itu patut disambut positif. Momennya sangat tepat," kata Toto Izul Fatah di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Toto yang juga aktivis pengrajin bambu ini berpendapat, istilah tobat ekologis yang digunakan Menteri Jumhur tersebut terasa lebih kuat, menyentuh, dan menggugah dibandingkan berbagai jargon lingkungan yang selama ini sering kita dengar.
Menurut Toto, dalam kata tobat tersimpan sebuah pengakuan yang jujur bahwa manusia telah melakukan kesalahan. Bahkan, dalam konteks spiritual, tobat berarti kesediaan mengakui dosa, menyesalinya, menghentikan perbuatan yang salah, serta berjanji tidak mengulanginya.
Baca Juga: Dilantik Prabowo Jadi Menteri LH, Jumhur: Lingkungan Hidup Harus Jadi Habits di Hati Kita
Karena itu, kata Toto, tobat ekologis seharusnya dimaknai sebagai pengakuan kolektif bahwa selama ini kita memang telah banyak berdosa terhadap alam. Toto menyebut dosa kita menebang hutan tanpa cukup memikirkan pemulihannya.
"Kita juga mengeruk kekayaan bumi tanpa sungguh-sungguh menghitung daya dukung lingkungan. Bahkan, seringkali sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, gunung dikeruk, laut dicemari, lahan produktif dialihfungsikan, dan ruang hidup masyarakat sering dikorbankan atas nama pembangunan," ujarnya.
Intinya, kata Toto, alam selama ini lebih banyak dipandang sebagai objek eksploitasi daripada sebagai ruang kehidupan yang harus dihormati dan dijaga.


















































